Sejatinya,
pembentukan karakter manusia itu terbentuk karena sebuah adaptasi lingkungan
dimulai sejak dini. Agama merupakan suatu kepercayaan/keyakinan yang dimiliki
setiap insan manusia sebagai wadah spiritual pembangun karakter maupun nutrisi
untuk kejiwaan. Namun akibat dari sebuah eksistensi keagamaan secara tidak
langsung menciptakan sebuah ruang, dimana setiap individu, keluarga, dan
kelompok agama menyatakan secara terbuka bahwa agama yang mereka yakini adalah
sebuah kebenaran yang absolute dan secara tidak langsung hal ini menciptakan
ruang segregasi yang begitu kental dalam masyarakat social. Tak jarang konflik
atas nama agama sering terjadi di Indonesia. Seperti Konflik Maluku dan Poso misalnya
ditambah sejumlah kasus terpisah di berbagai tempat di mana kaum
Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat Kristen adalah sejumlah
contoh konflik yang “sedikit banyak” dipicu oleh perbedaan konsep di
antara kedua agama ini. Perang Salib (1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan
Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir
Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara Islam dan Kristen yang
terbesar sepanjang sejarah. Catatan ini, mungkin akan bertambah panjang, jika
intervensi Barat (Amerika dan sekutu-sekutunya) di dunia Islam dilampirkan pula
di sini.
Sehingga benar jika dikatakan
bahwa agama merupakan suatu konsep keyakinan yang secara gamblang dinyatakan
sebagai sumber konflik. Pandangan stereotip satu kelompok
terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan
dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling
serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah masing-masing, dan sebagainya. Umat
Islam dipandang sebagai umat yang radikal, tidak toleran, dan sangat subjektif
dalam memandang kebenaran yang boleh jadi terdapat pada umat. sementara
umat Kristen dipandang sebagai umat yang agresif dan ambisius yang bertendensi
menguasai segala aspek kehidupan dan berupaya menyebarkan pesan Yesus yang
terakhir, “Pergilah ke seluruh dunia dan kabarkanlah Injil kepada seluruh
makhluk!” (Martius 16: 15) dan bahkan sebagian kalangan berpendapat bahwa
perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat
manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang
mengatur masalah kekerasan dan peperangan seperti dalam tradisi
Judeo-Christian, Yehweh “sebutan Tuhan dalam Bibel” digambarkan sebagai “God of
War” dan dalam Islam dikenal dengan konsep “Jihad” yang dalam beberapa hal
berarti qital (Peperangan) sehingga
secara tidak langsung beberapa pengamat menilai bahwa agama melegitimasi
terjadinya berbagai konflik social. Namun sebenarnya pandangan tentang agama
yang dinilai sebagai sumber konflik adalah suatu prespektif yang tendensinya
kebanyakan dikaji dalam lingkup social keagamaan tertentu sehingga mudah muncul
sebuah presepsi berbeda terhadap kepercayaan/agama yang lain ataupun bisajadi
karena penafsiran yang penyimpang dari apa yang tetulis dalam teks-teks
keagamaan yang berkonotasi radikal cenderung intoleran sehingga menjadi
landasan bahwa kekerasan itu dihalalkan dalam agama. Namun, pandangan penulis
hal ini bukanlah sebuah legitimasi bentuk-bentuk kekerasan apapun namun lebih
kepada sebuah ketegasan dalam beragama, dimana diberikan batas-batas yang jelas
agar dapat menjalankan perintah agama yang baik dan benar.
Hal
ini dibuktikan bahwasanya islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi
toleransi dan memprioritaskan kedamaian. dimana Islam adalah agama rahmatan lil
‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan
bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi
sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang
bunyinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam”. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk
Allah., terutama manusia.
Meretas Ruang Segregasi melalui
Interfaith Dialogue
Namun
tak bisa dipungkiri bahwa memang tidak ada kolerasi yang nyata antara satu
agama dengan agama yang lain pada level eksoteris, seperti aspek syari’ah yang
dapat memunculkan persamaan. Namun tak dapat dibiarkan jika agama menjadi
alasan untuk menghalalkan ruang segregasi dan bahkan ruang konflik didalam
masyarakat social ataupun memaksa kelompok untuk mengikuti kelompok yang lain.
Atas
dasar permasalahan tersebut muncul sebuah konsep pemahaman yang tidak memaksa untuk
mempercayai namun lebih kepada memahami kelompok lain melalui pendekatan yang
humanis yakni membuka sebuah ruang netral, sebuah ruang yang dapat mempertemukan
setiap elemen kelompok maupun agama untuk saling mengerti satu sama lain, yang
didalamnya lebih kepada pendekatan-pendekatan yang baik dan beradab, yakni
sebuh forum interfaith dialogue dengan pembahasan pada level-level tertentu
yang lebih mengedepankan aksi-aksi kemanusiaan. seperti pada level esoteris,
semuanya sama saja. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama
sah untuk menuju kepada Tuhan, termasuk Islam dan Kristen.
Manfaat Forum Interfaith
Dialogue “Kerukunan Beragama”.
Sejatinya Interfaith Dialogue yang dimaksudkan
bukanlah hal mutlak untuk mencari-cari kebenaran karna pada dasarnya kebenaran
adalah presepsi yang relative tergantung pemahaman agama yang diyakini. Namun,
Melalui interfaith dialogue diiharapkan dapat memperkuat Kerukunan beragama
dinegara yang majemuk ini. Dan dengan
alasan yang sama dapat dikembangkan menjadi sebagai faktor pemersatu, penjaga
stabilitas dan kemajuan negara di dalam kehidupan berbangsa. Dalam satu
decade terakhir perkembangan forum dialog lintas agama tersebut berkembang dalam
dinamika social masyarakat Indonesia. Sehingga harus dijaga dan dijalankan
terus menerus dan komprehensif.
Kemajemukan
merupakan realita yang tidak bisa dihindarkan ataupun dihapuskan sebagai upaya
pemersatu, melainkan kemajemukan itu dikelola secara baik dan benar agar setiap
elemen-elemen masyarakat yang berlatar belakang keyakinan yang berbeda dapat
berkolaborasi dan bersinergi untuk mengumpulkan kekuatan social yang besar
dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang kompleks seperti pemberantasan
kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Ekspektasi yang nyata bahwa forum
interfaith dialogue menjadi forum dialog yang jujur untuk menyamakan presepsi
dalam hal kemanusiaan dan menghilangkan prasangka-prasangka yang sering muncul
ataupun yang mengganjal dalam suatu kelompok masyarakat. Karena tidak menutup
kemungkinan konflik keagamaan terjadi akibat tidak tersampainya informasi
antara pemeluk agama sehingga muncul prasangka-prasangka yang mengarah pada
terbentuknya penilaian maupun stigma negative didalam kelompok masyarakat. Dan
efektifitas dari forum dialog antar umat beragama tidak bertendensi pada aspek
teologis ataupun eksklusifitas saja melainkan lebih cenderung pembahasan pada aspek kemanusiaan.
Menghayati
persamaan lewat perbedaan dalam “a common word” menjadi sebuah acuan hidup
dalam meretas ruang segregasi yang masih sangat kental dalam ruang social
terutama dalam aspek keberagaman agama di Indonesia. Menyerukan jalan tuhan
dalam kebijaksanaan dan pengajaran yang baik karna “tidak ada paksaan dalam
(menganut) agama (islam)” (Q.s Al-Baqarah : 256)
Dengan
Interfaith Dialogue diharapakan bahwa semakin banyak masyarakat yang mengerti
dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kemajemukan. Menjadi landasan
dalam membuka forum-forum diskusi teologis yang baik dan humanis dengan
kacamata toleransi dan saling menghargai. Dan menghapus stigma negative yang
sering muncul dalam masyarakat terhadap forum diskusi lintas-agama. Mereduksi
pemikiran yang radikal antar lintas agama serta Menciptakan ruang inklusifitas
saling merangkul dalam hal kemanusiaan. someday peace come true and i am
peacemaker. J
Hasim
Djamil (H.D)

0 komentar :
Posting Komentar