Sabtu, 10 Desember 2011

cerpen

PART 1

Losing

Aku menuangkan gelas ke dalam air dengan tergesa. "Ups", ujarku cepat, ketika air itu mulai meluber ke sisi gelas. Aku membungkukkan badanku sampai ke bibir gelas dan cepat-cepat meminumnya. Dari sudut mataku, bisa kulihat Eron menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan gelisah, berkali-kali ia melirik jam dengan cemas. Eron kemudian menghampiriku dengan langkah-langkahnya yang cepat di sudut cafetaria. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi di sebelahku dengan kesal dan mendesah "Pesawatnya ditunda, delay", ujarnya sambil menatapku tajam. Aku hanya memandangnya tanpa ekspresi. Aku tahu Eron kesal padaku karena aku terlambat mengantarnya ke bandara, dan ketika kukatakan bahwa ia tak perlu cemas bahwa kemungkinan besar keberangkatannya ditunda, ia tak mengucapkan komentar apapun. Ia hanya melirik cemas ke jalan raya dan menyuruhku untuk lebih cepat menyetir. Aku mengatakan hal itu pada Eron hanya untuk menenangkannya, namun aku tak menduga hal ini sungguh terjadi. Eron kesal karena dugaanku benar, karena ia ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Eron kesal karena aku selalu benar dalam banyak hal, bahkan kenyataannya, Eron kesal terhadap semua yang kulakukan. Aku pun tak tahu kenapa aku bisa tahan dengan laki-laki egois seperti Eron, yang selalu berpendapat dirinya paling benar. Ia sering berkata "Jika seseorang tidak ingin benar-benar mengenalku, ya sudah, toh aku tak butuh mereka", ujarnya marah ketika aku menyarankan padanya untuk berbaikan pada teman sekampusnya.
Dan disinilah Eron dan aku sekarang. Kami berada di bandara kecil kota kami, sedang menunggu pesawat yang ditunda sekitar 3 jam. Aku mengawasi Eron dari sudut mataku. Ia masih duduk dengan gelisah di kursinya. Aku mengenang masa lalu, teringat ketika ia mendekatiku. Eron sangat bergantung padaku kala itu. Eron mengajakku kemanapun dia pergi, dan menanyakan segala sesuatu yang ingin dilakukannya padaku. Eron memang tidak pernah mengatakan cinta padaku, ia hanya ingin menghabiskan banyak waktu denganku. Dan aku menyukai Eron apa adanya. Teman-temanku tidak menyukai Eron. Bahkan beberapa diantaranya ada yang terang-terangan mengatakan, "Tampangnya menyebalkan", atau "Ganteng sih, tapi aku kok tidak suka ya", atau sekedar memperingatkan, "Karin, berpisahlah dengannya, dia punya banyak cewek". Tapi aku tutup telinga. Aku tidak mau ribut dengan Eron, aku mencintainya. Toh Eron memperlakukanku dengan baik, meski kadang ia bertingkah menyebalkan. Aku tak pernah mencari tahu banyak tentang Eron dan bertanya ini itu. Aku senang menghabiskan waktu dengan Eron, walau terkadang aku membencinya karena ia lupa atau sengaja tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi olehku selama berhari-hari. Tapi tetap saja dia Eron-ku. Eron yang menyebalkan. Datang dan pergi sesuka hatinya.
Aku dan Eron tak banyak bicara kali ini. Kami membiarkan waktu berlalu dengan lambat dengan sikap diam dan memutuskan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lama kemudiab, aku tak tahan. Kemudian aku memalingkan wajah ke arah Eron yang duduk disebelahku "Setelah kau pergi, apakah kita masih berteman", ujarku tiba-tiba. Eron tampak salah tingkah, sesaat ia terpana memandangku lalu menjawab pelan, "Yeah, kurasa begitu", sahutnya pendek. Aku cuma mengangguk mendengarnya. Aku berani bertaruh, Eron tak akan menghubungiku lagi sesudah ini. Eron memang menjauh dariku akhir-akhir ini, ia bahkan terang-terangan tidak memenuhi undangan dariku dan memilih pergi bersama teman-temannya. Tapi memang begitulah Eron, selalu bertingkah semaunya. Eron telah menyelesaikan kuliahnya di kota kecil ini, dan ia berniat kembali ke tempat asalnya, kota yang lebih besar. Eron membenci kota ini, Eron selalu berkata begitu denganku. Ia memang sering mengajakku keliling kota dengan sepeda motor besarnya, namun ia tak henti-hentinya mengeluh betapa sepinya kota ini. Aku memandang Eron beberapa saat. Laki-laki bertubuh tegap dan tinggi menjulang. Wajhnya tampan dan kulitnya halus. Aku mulai membuka percakapan lagi dengannya, mencoba memcahkan kebekuan. "Hmm...semoga berhasil", ujarku lagi. Kali ini aku tak memandangi Eron. Aku terlalu pedih. Bisa dikatakan, Eron memang tak pernah memperlakukanku spesial, bahkan aku tak yakin dia menganggap aku pacarnya. Tapi entah kenapa aku merasa sedih sekali harus kehilangan Eron. Ada lubang besar yang menganga di dadaku. lagi-lagi Eron hanya terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Sepertinya pesawatnya hampir datang", ujar Eron menyentak lamunanku. Aku mengerling memandangnya. Aku menyingkirkan tas Eron dari bahuku, dan menyerahkan padanya. Eron menerima dengan susah payah, karena ia sendiri juga membawa dua tas besar. "Hati-hati ya", ujarku pelan. Eron hanya mengangguk dan melambai padaku. Diterusakannya langkah menuju ruang keberangkatan. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh, tanpa kata-kata. Aku hanya memandangi punggungnya menjauh dari balik kaca dengan mendesah sedih. Semuanya sudah berakhir sekarang. Aku berniat melupakan Eron selamanya. Meskipun tadi ia sempat mengatakan bahwa ia akan menghubungiku, tapi kurasa ia tak sungguh-sungguh mengatakannya. Aku melangkahkan kaki dengan lemas menuju parkiran bandara. Sambil setengah melamun, aku pulang dengan merana. Pikiranku kosong. Aku tak menyangka bakalan sesakit ini ditinggal Eron. Aku pulang dengan perasaan terpuruk. Meski semua orang bersyukur aku lepas dari Eron, aku tetap saja merasa sedih. Aku kehilangan orang yang benar-benar kusayangi, dan meskipun aku tak pernah tahu perasaanya padaku, aku tak pernah keberatan, asal aku bisa berada disisi Eron.


0 komentar :

Posting Komentar