PART 1
Losing
Aku
menuangkan gelas ke dalam air dengan tergesa. "Ups", ujarku cepat,
ketika air itu mulai meluber ke sisi gelas. Aku membungkukkan badanku
sampai ke bibir gelas dan cepat-cepat meminumnya. Dari sudut mataku,
bisa kulihat Eron menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan
gelisah, berkali-kali ia melirik jam dengan cemas. Eron kemudian
menghampiriku dengan langkah-langkahnya yang cepat di sudut cafetaria.
Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi di sebelahku dengan kesal dan
mendesah "Pesawatnya ditunda, delay", ujarnya sambil menatapku tajam.
Aku hanya memandangnya tanpa ekspresi. Aku tahu Eron kesal padaku karena
aku terlambat mengantarnya ke bandara, dan ketika kukatakan bahwa ia
tak perlu cemas bahwa kemungkinan besar keberangkatannya ditunda, ia tak
mengucapkan komentar apapun. Ia hanya melirik cemas ke jalan raya dan
menyuruhku untuk lebih cepat menyetir. Aku mengatakan hal itu pada Eron
hanya untuk menenangkannya, namun aku tak menduga hal ini sungguh
terjadi. Eron kesal karena dugaanku benar, karena ia ingin cepat-cepat
meninggalkan kota ini. Eron kesal karena aku selalu benar dalam banyak
hal, bahkan kenyataannya, Eron kesal terhadap semua yang kulakukan. Aku
pun tak tahu kenapa aku bisa tahan dengan laki-laki egois seperti Eron,
yang selalu berpendapat dirinya paling benar. Ia sering berkata "Jika
seseorang tidak ingin benar-benar mengenalku, ya sudah, toh aku tak
butuh mereka", ujarnya marah ketika aku menyarankan padanya untuk
berbaikan pada teman sekampusnya.
Dan
disinilah Eron dan aku sekarang. Kami berada di bandara kecil kota kami,
sedang menunggu pesawat yang ditunda sekitar 3 jam. Aku mengawasi Eron
dari sudut mataku. Ia masih duduk dengan gelisah di kursinya. Aku
mengenang masa lalu, teringat ketika ia mendekatiku. Eron sangat
bergantung padaku kala itu. Eron mengajakku kemanapun dia pergi, dan
menanyakan segala sesuatu yang ingin dilakukannya padaku. Eron memang
tidak pernah mengatakan cinta padaku, ia hanya ingin menghabiskan banyak
waktu denganku. Dan aku menyukai Eron apa adanya. Teman-temanku tidak
menyukai Eron. Bahkan beberapa diantaranya ada yang terang-terangan
mengatakan, "Tampangnya menyebalkan", atau "Ganteng sih, tapi aku kok
tidak suka ya", atau sekedar memperingatkan, "Karin, berpisahlah
dengannya, dia punya banyak cewek". Tapi aku tutup telinga. Aku tidak
mau ribut dengan Eron, aku mencintainya. Toh Eron memperlakukanku dengan
baik, meski kadang ia bertingkah menyebalkan. Aku tak pernah mencari
tahu banyak tentang Eron dan bertanya ini itu. Aku senang menghabiskan
waktu dengan Eron, walau terkadang aku membencinya karena ia lupa atau
sengaja tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi olehku selama
berhari-hari. Tapi tetap saja dia Eron-ku. Eron yang menyebalkan. Datang
dan pergi sesuka hatinya.
Aku dan
Eron tak banyak bicara kali ini. Kami membiarkan waktu berlalu dengan
lambat dengan sikap diam dan memutuskan sibuk dengan pikiran
masing-masing. Lama kemudiab, aku tak tahan. Kemudian aku memalingkan
wajah ke arah Eron yang duduk disebelahku "Setelah kau pergi, apakah
kita masih berteman", ujarku tiba-tiba. Eron tampak salah tingkah,
sesaat ia terpana memandangku lalu menjawab pelan, "Yeah, kurasa
begitu", sahutnya pendek. Aku cuma mengangguk mendengarnya. Aku berani
bertaruh, Eron tak akan menghubungiku lagi sesudah ini. Eron memang
menjauh dariku akhir-akhir ini, ia bahkan terang-terangan tidak memenuhi
undangan dariku dan memilih pergi bersama teman-temannya. Tapi memang
begitulah Eron, selalu bertingkah semaunya. Eron telah menyelesaikan
kuliahnya di kota kecil ini, dan ia berniat kembali ke tempat asalnya,
kota yang lebih besar. Eron membenci kota ini, Eron selalu berkata
begitu denganku. Ia memang sering mengajakku keliling kota dengan sepeda
motor besarnya, namun ia tak henti-hentinya mengeluh betapa sepinya
kota ini. Aku memandang Eron beberapa saat. Laki-laki bertubuh tegap
dan tinggi menjulang. Wajhnya tampan dan kulitnya halus. Aku mulai
membuka percakapan lagi dengannya, mencoba memcahkan kebekuan.
"Hmm...semoga berhasil", ujarku lagi. Kali ini aku tak memandangi Eron.
Aku terlalu pedih. Bisa dikatakan, Eron memang tak pernah
memperlakukanku spesial, bahkan aku tak yakin dia menganggap aku
pacarnya. Tapi entah kenapa aku merasa sedih sekali harus kehilangan
Eron. Ada lubang besar yang menganga di dadaku. lagi-lagi Eron hanya
terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Sepertinya
pesawatnya hampir datang", ujar Eron menyentak lamunanku. Aku
mengerling memandangnya. Aku menyingkirkan tas Eron dari bahuku, dan
menyerahkan padanya. Eron menerima dengan susah payah, karena ia sendiri
juga membawa dua tas besar. "Hati-hati ya", ujarku pelan. Eron hanya
mengangguk dan melambai padaku. Diterusakannya langkah menuju ruang
keberangkatan. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh, tanpa kata-kata.
Aku hanya memandangi punggungnya menjauh dari balik kaca dengan mendesah
sedih. Semuanya sudah berakhir sekarang. Aku berniat melupakan Eron
selamanya. Meskipun tadi ia sempat mengatakan bahwa ia akan
menghubungiku, tapi kurasa ia tak sungguh-sungguh mengatakannya. Aku
melangkahkan kaki dengan lemas menuju parkiran bandara. Sambil setengah
melamun, aku pulang dengan merana. Pikiranku kosong. Aku tak menyangka
bakalan sesakit ini ditinggal Eron. Aku pulang dengan perasaan terpuruk.
Meski semua orang bersyukur aku lepas dari Eron, aku tetap saja merasa
sedih. Aku kehilangan orang yang benar-benar kusayangi, dan meskipun aku
tak pernah tahu perasaanya padaku, aku tak pernah keberatan, asal aku
bisa berada disisi Eron.
0 komentar :
Posting Komentar