This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 19 November 2014

Kodingareng Keke Island : Pulau Imut tak berpenghuni

Sebuah panorama bahari disebelah barat laut makassar. yang menyajikan ratusan bahkan ribuan gugusan pulau-pulau kecil yang saling bersahutan, keindahan bawah laut dan panorama laut selamat makassar sudah tidak dipertanyakan lagi. beberapa pulau menawarkan wahana-wahana bahkan resort sebagai wadah menyalurkan kegundahan dan seperti stimulasi dopamin untuk meredam stress akibat penat dan sekelumit aktivitas di perkotaan, salahsatu pulau dari ratusan gugusan pulau-pulau yang ada diselat Makassar yakni pulau Kodingareng Keke. pulau yang hanya berkisar seluas 3 hektar masuk dalam kategori pulau kecil yang dimana pulau ini pun tak berpenghuni. pulau yang masyarakat Makassar sendiri masih awam ini menyajikan panorama bawah laut yang sangat terjaga keasliannya dan semoga tetap begitu!


pinggiran pantai sebelah barat pulau
Pulau Kodingareng keke ini dapat ditempuh dengan kapal nelayan sekitar 45 menit dari dermaga poetere, ideal untuk berangkat menuju pulau yakni berkisar pada pukul 11:00 hingga 13:00 WITA dimana ombak masih bersahabat. untuk yang ingin trip kepulau kodingareng keke harus tetap menjaga kebersihan dengan membawa pulang sampah yang sudah dihasilkan dan menjaga terumbu karang dengan tidak menginjaknya.




Berkemah di Kodingareng keke island

Matahari pagi menyambut aktivitas snorkeling

Maaf dalam Postingan kali ini tidak menampilkan seluruh keindahan pulau, mulai dari pasir putih, Alga biru  yang menyala dimalam hari, keindahan bawah laut terumbu karang yang masih tersegel dengan baik, sampai ikan-ikan yang menyapa di bibir pantai. berhubung keindahan hanya bisa digambarkan dengan realitas kita melihat, meraba, dan merasakan sendiri. satu pesan yang selalu terbesit bahwa keindahan ini patut lah dijaga, bukan untuk di eksplorasi keindahannya dengan merusak dan meninggalkan sampah, sejatinya yang hanya ditinggalkan di pulau ini adala kenangan dan jejak kaki saja. salam travelling.

H.D

Senin, 17 November 2014

Eksklusion or Embrace (?) : Menanamkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi beragama melalui interfaith dialogue

Sejatinya, pembentukan karakter manusia itu terbentuk karena sebuah adaptasi lingkungan dimulai sejak dini. Agama merupakan suatu kepercayaan/keyakinan yang dimiliki setiap insan manusia sebagai wadah spiritual pembangun karakter maupun nutrisi untuk kejiwaan. Namun akibat dari sebuah eksistensi keagamaan secara tidak langsung menciptakan sebuah ruang, dimana setiap individu, keluarga, dan kelompok agama menyatakan secara terbuka bahwa agama yang mereka yakini adalah sebuah kebenaran yang absolute dan secara tidak langsung hal ini menciptakan ruang segregasi yang begitu kental dalam masyarakat social. Tak jarang konflik atas nama agama sering terjadi di Indonesia. Seperti Konflik Maluku dan Poso misalnya ditambah sejumlah kasus terpisah di berbagai  tempat di mana kaum Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat Kristen adalah sejumlah contoh konflik yang “sedikit banyak” dipicu oleh perbedaan konsep di antara kedua agama ini. Perang Salib (1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah. Catatan ini, mungkin akan bertambah panjang, jika intervensi Barat (Amerika dan sekutu-sekutunya) di dunia Islam dilampirkan pula di sini.
Sehingga benar jika dikatakan bahwa agama merupakan suatu konsep keyakinan yang secara gamblang dinyatakan sebagai sumber konflik. Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah  masing-masing, dan sebagainya.  Umat Islam dipandang sebagai umat yang radikal, tidak toleran, dan sangat subjektif dalam memandang kebenaran yang  boleh jadi terdapat pada umat. sementara umat Kristen dipandang sebagai umat yang agresif dan ambisius yang bertendensi menguasai segala aspek kehidupan dan berupaya menyebarkan pesan Yesus yang terakhir, “Pergilah ke seluruh dunia dan kabarkanlah Injil kepada seluruh makhluk!” (Martius 16: 15) dan bahkan sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan seperti dalam tradisi Judeo-Christian, Yehweh “sebutan Tuhan dalam Bibel” digambarkan sebagai “God of War” dan dalam Islam dikenal dengan konsep “Jihad” yang dalam beberapa hal berarti qital (Peperangan) sehingga secara tidak langsung beberapa pengamat menilai bahwa agama melegitimasi terjadinya berbagai konflik social. Namun sebenarnya pandangan tentang agama yang dinilai sebagai sumber konflik adalah suatu prespektif yang tendensinya kebanyakan dikaji dalam lingkup social keagamaan tertentu sehingga mudah muncul sebuah presepsi berbeda terhadap kepercayaan/agama yang lain ataupun bisajadi karena penafsiran yang penyimpang dari apa yang tetulis dalam teks-teks keagamaan yang berkonotasi radikal cenderung intoleran sehingga menjadi landasan bahwa kekerasan itu dihalalkan dalam agama. Namun, pandangan penulis hal ini bukanlah sebuah legitimasi bentuk-bentuk kekerasan apapun namun lebih kepada sebuah ketegasan dalam beragama, dimana diberikan batas-batas yang jelas agar dapat menjalankan perintah agama yang baik dan benar.
            Hal ini dibuktikan bahwasanya islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan memprioritaskan kedamaian. dimana Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah., terutama manusia.

Meretas Ruang Segregasi melalui Interfaith Dialogue
Namun tak bisa dipungkiri bahwa memang tidak ada kolerasi yang nyata antara satu agama dengan agama yang lain pada level eksoteris, seperti aspek syari’ah yang dapat memunculkan persamaan. Namun tak dapat dibiarkan jika agama menjadi alasan untuk menghalalkan ruang segregasi dan bahkan ruang konflik didalam masyarakat social ataupun memaksa kelompok untuk mengikuti kelompok yang lain.
Atas dasar permasalahan tersebut muncul sebuah konsep  pemahaman yang tidak memaksa untuk mempercayai namun lebih kepada memahami kelompok lain melalui pendekatan yang humanis yakni membuka sebuah ruang netral, sebuah ruang yang dapat mempertemukan setiap elemen kelompok maupun agama untuk saling mengerti satu sama lain, yang didalamnya lebih kepada pendekatan-pendekatan yang baik dan beradab, yakni sebuh forum interfaith dialogue dengan pembahasan pada level-level tertentu yang lebih mengedepankan aksi-aksi kemanusiaan. seperti pada level esoteris, semuanya sama saja. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan, termasuk Islam dan Kristen.
Manfaat Forum Interfaith Dialogue  “Kerukunan Beragama”.
 Sejatinya Interfaith Dialogue yang dimaksudkan bukanlah hal mutlak untuk mencari-cari kebenaran karna pada dasarnya kebenaran adalah presepsi yang relative tergantung pemahaman agama yang diyakini. Namun, Melalui interfaith dialogue diiharapkan dapat memperkuat Kerukunan beragama dinegara yang majemuk ini.  Dan dengan alasan yang sama dapat dikembangkan menjadi sebagai faktor pemersatu, penjaga stabilitas dan kemajuan negara di dalam kehidupan berbangsa. Dalam satu decade terakhir perkembangan forum dialog lintas agama tersebut berkembang dalam dinamika social masyarakat Indonesia. Sehingga harus dijaga dan dijalankan terus menerus dan komprehensif.
Kemajemukan merupakan realita yang tidak bisa dihindarkan ataupun dihapuskan sebagai upaya pemersatu, melainkan kemajemukan itu dikelola secara baik dan benar agar setiap elemen-elemen masyarakat yang berlatar belakang keyakinan yang berbeda dapat berkolaborasi dan bersinergi untuk mengumpulkan kekuatan social yang besar dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang kompleks seperti pemberantasan kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Ekspektasi yang nyata bahwa forum interfaith dialogue menjadi forum dialog yang jujur untuk menyamakan presepsi dalam hal kemanusiaan dan menghilangkan prasangka-prasangka yang sering muncul ataupun yang mengganjal dalam suatu kelompok masyarakat. Karena tidak menutup kemungkinan konflik keagamaan terjadi akibat tidak tersampainya informasi antara pemeluk agama sehingga muncul prasangka-prasangka yang mengarah pada terbentuknya penilaian maupun stigma negative didalam kelompok masyarakat. Dan efektifitas dari forum dialog antar umat beragama tidak bertendensi pada aspek teologis ataupun eksklusifitas saja melainkan lebih cenderung  pembahasan pada aspek kemanusiaan.
Menghayati persamaan lewat perbedaan dalam “a common word” menjadi sebuah acuan hidup dalam meretas ruang segregasi yang masih sangat kental dalam ruang social terutama dalam aspek keberagaman agama di Indonesia. Menyerukan jalan tuhan dalam kebijaksanaan dan pengajaran yang baik karna “tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam)” (Q.s Al-Baqarah : 256)
Dengan Interfaith Dialogue diharapakan bahwa semakin banyak masyarakat yang mengerti dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kemajemukan. Menjadi landasan dalam membuka forum-forum diskusi teologis yang baik dan humanis dengan kacamata toleransi dan saling menghargai. Dan menghapus stigma negative yang sering muncul dalam masyarakat terhadap forum diskusi lintas-agama. Mereduksi pemikiran yang radikal antar lintas agama serta Menciptakan ruang inklusifitas saling merangkul dalam hal kemanusiaan. someday peace come true and i am peacemaker. J

Hasim Djamil (H.D)