Sabtu, 10 Desember 2011

cerpen

part 2

Waiting

Sehari, dua hari, tiga hari. Aku melewatkan hariku dengan memutar telepon genggamku berulangkali dan menatapnya dari segala arah dengan pandangan merana. Aku tak melihatnya menyala karena ada sms atau telepon dari Eron yang melintas di telepon genggamku. Seminggu kemudian dan minggu-minggu berikutnya, aku memang agak senewen. Namun perilaku ku tak lagi mengamati telepon genggamku seharian, hanya sepintas melirik, lalu mendesah kecewa lagi. Ketika minggu berlalu dan bulan berganti, aku mulai membiasakan diri bahwa Eron memang tidak berniat menghubungiku. Ia sudah melupakanku. Mungkin ia sudah menghapus namaku dalam ingatannya, berpikir seolah aku tak pernah ada, dan tak meninggalkan apapun dalam kehidupan masa lalunya. Dan meskipun pedih, aku berjuang sekuat tenaga mengenyahkan bayang-bayang Eron dari hidupku. Aku harus bangkit, memulai dari awal, membuka lembar kehidupan baru.
Sudah setahun semenjak kepergian Eron yang tanpa kabar, aku melewati hari-hariku dengan kepedihan. Meski begitu, aku tak berminat menunggunya lagi. Tidak setelah aku begitu frustasi belakangan ini. Walau hati kecilku mengharapkannya, nampaknya aku sudah lebih ikhlas kali ini. Temanku mengatakan, bahwa aku nampak lebih bahagia tanpa Eron. Sebagian temanku menganggap aku lebih sensitif pasca kehilangan Eron, tapi selebihnya menurut mereka aku baik-baik saja. Aku hanya mengembangkan senyum palsu ketika semua orang bertanya tentang kabar Eron padaku. Maklum saja, dulu kami tak terpisahkan. Seluruh kampus tahu aku selalu bersama Eron kemanapun kami pergi -- tepatnya dialah yang mengikutiku kemana-mana, tapi nyatanya sekarang aku seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku mudah bingung, dan seperti teman-temanku bilang -- sangat sensitif. Aku gelisah menunggu Eron, tapi memang aku sepertinya terjebak dalam penantian tak berakhir. Dan aku hanya bisa mengira-ira, dimanakah ujung jalan dari kisah cintaku bersama Eron. Setahun ini menjelaskan banyak padaku, bahwa sudah seharusnya aku mencari jalan lain. Jalan yang satu ini sudah hilang, dan aku akan semakin tersesat jika mengikutinya. Kadang aku masih sering bermimpi tentang Eron, tentang kami. Kadang aku terbangun dengan gelisah tengah malam. Aku duduk sambil menekuk lututku yang gemetar, keringat dingin membasahi punggung dan keningku. Mimpi-mimpi itu memang kadang indah, tapi lebih banyak mimpi menyeramkan yang membuatku terbangun dengan perasaan sedih keesokan paginya. Mimpi-mimpi itu memang sering menghantuiku awalnya, tapi sudah banyak berkurang akhir-akhir ini. Dan meskipun aku mencoba menyangkalnya, proses melepaskan diri dari sakit hati dan kenangan masa lalu amat sangatlah tidak gampang. Mengingat aku mencintai Eron. Dan aku mencintainya, sungguh-sungguh, tanpa syarat, dan teramat dalam.
Penantian ini membawaku ke kesadaran baru, dan hidup baru, dan segala sesuatunya membuatku gugup sekarang. Aku memang mudah gugup ketika menghadapi segala sesuatu yang baru. Aku bahkan gugup ketika memakai sepatu baruku ke kampus, apalagi sekarang, kehidupan baruku tanpa Eron. Teman baikku, Susan kadang mengenalkanku pada teman atau saudaranya. Memang cukup membantu agaknya, tapi aku sendiri belum tertarik untuk memulai hubungan baru selepas aku berpisah dengan Eron. Dari sedikit orang yang mengenal pribadiku sebenarnya, hanya Susan yang paling dekat denganku. Ia menunjukkan empati luar biasa padaku akhir-akhir ini. Membujukku untuk tidak mengurung diri di kamar, dan pergi berjalan-jalan bersama di akhir pekan. Susan bahkan menyarankan aku untuk mengganti nomor telepon genggamku, dan bahkan mengganti telepon genggamku sekalian. Mengajakku berbelanja sampai pegal, menonton film di bioskop, sampai piknik seharian ke pantai. Setahun ini aku harus melalui berbagai macam perasaan. Mulai dari jatuh dan terpuruk semenjak kepergian Eron, terkurung dalam penantian yang menyakitkan, kemudian mencoba pulih dari keterpurukan. Segalanya terasa begitu sulit, tapi seiring waktu aku mudah saja melewatinya, sampai sekarang. Aku begitu mudah bahagia sekarang. Aku tertawa melihat matahari terbit, dan bahagia luar biasa ketika angin menghembuskan nafasnya padaku, membelai dengan lembut. Aku merasakan sinar matahari yang hangat sampai ke pori-poriku dan menciumi wangi bunga pagi harinya. Seperti sore ini, senja yang temaram, dan aku sedang membaca buku sambil menyelonjorkan kaki. Aku menyandarkan badanku di kursi malas dan membuka buku yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca. Setahuku itu cerita misteri detektif, dan aku sedang dalam mood untuk membaca cerita ini. Semuanya begitu sempurna, aku meletakkan segelas teh hangat dan setoples kue kering manis di meja sebelah kursi malas. Aku bersantai di ruang membaca, duduk menghadap jendela dengan damai. Membiarkan angin meniup lembut dan ujung-ujung gorden terayun lembut sampai pembantuku, Mbak Lastri, tergopoh menyorongkan gagang telepon padaku. Nampaknya seseorang meneleponku, tapi dari ekspresi Mbak Lastri, dia tahu aku tak akan menyukai peneleponku. Dengan muka kaku dan setengah berbisik ia menyerahkan gagang telepon, "Dari Mas Eron.."

0 komentar :

Posting Komentar