part 2
Waiting
Sehari,
dua hari, tiga hari. Aku melewatkan hariku dengan memutar telepon
genggamku berulangkali dan menatapnya dari segala arah dengan pandangan
merana. Aku tak melihatnya menyala karena ada sms atau telepon dari
Eron yang melintas di telepon genggamku. Seminggu kemudian dan
minggu-minggu berikutnya, aku memang agak senewen. Namun perilaku ku
tak lagi mengamati telepon genggamku seharian, hanya sepintas melirik,
lalu mendesah kecewa lagi. Ketika minggu berlalu dan bulan berganti,
aku mulai membiasakan diri bahwa Eron memang tidak berniat
menghubungiku. Ia sudah melupakanku. Mungkin ia sudah menghapus namaku
dalam ingatannya, berpikir seolah aku tak pernah ada, dan tak
meninggalkan apapun dalam kehidupan masa lalunya. Dan meskipun pedih,
aku berjuang sekuat tenaga mengenyahkan bayang-bayang Eron dari
hidupku. Aku harus bangkit, memulai dari awal, membuka lembar kehidupan
baru.
Sudah
setahun semenjak kepergian Eron yang tanpa kabar, aku melewati
hari-hariku dengan kepedihan. Meski begitu, aku tak berminat
menunggunya lagi. Tidak setelah aku begitu frustasi belakangan ini.
Walau hati kecilku mengharapkannya, nampaknya aku sudah lebih ikhlas
kali ini. Temanku mengatakan, bahwa aku nampak lebih bahagia tanpa
Eron. Sebagian temanku menganggap aku lebih sensitif pasca kehilangan
Eron, tapi selebihnya menurut mereka aku baik-baik saja. Aku hanya
mengembangkan senyum palsu ketika semua orang bertanya tentang kabar
Eron padaku. Maklum saja, dulu kami tak terpisahkan. Seluruh kampus
tahu aku selalu bersama Eron kemanapun kami pergi -- tepatnya dialah yang
mengikutiku kemana-mana, tapi nyatanya sekarang aku seperti anak ayam
kehilangan induknya. Aku mudah bingung, dan seperti teman-temanku
bilang -- sangat sensitif. Aku gelisah menunggu Eron, tapi memang aku
sepertinya terjebak dalam penantian tak berakhir. Dan aku hanya bisa
mengira-ira, dimanakah ujung jalan dari kisah cintaku bersama Eron.
Setahun ini menjelaskan banyak padaku, bahwa sudah seharusnya aku
mencari jalan lain. Jalan yang satu ini sudah hilang, dan aku akan
semakin tersesat jika mengikutinya. Kadang aku masih sering bermimpi
tentang Eron, tentang kami. Kadang aku terbangun dengan gelisah tengah
malam. Aku duduk sambil menekuk lututku yang gemetar, keringat dingin
membasahi punggung dan keningku. Mimpi-mimpi itu memang kadang indah,
tapi lebih banyak mimpi menyeramkan yang membuatku terbangun dengan
perasaan sedih keesokan paginya. Mimpi-mimpi itu memang sering
menghantuiku awalnya, tapi sudah banyak berkurang akhir-akhir ini. Dan
meskipun aku mencoba menyangkalnya, proses melepaskan diri dari sakit
hati dan kenangan masa lalu amat sangatlah tidak gampang. Mengingat aku
mencintai Eron. Dan aku mencintainya, sungguh-sungguh, tanpa syarat,
dan teramat dalam.
Penantian
ini membawaku ke kesadaran baru, dan hidup baru, dan segala sesuatunya
membuatku gugup sekarang. Aku memang mudah gugup ketika menghadapi
segala sesuatu yang baru. Aku bahkan gugup ketika memakai sepatu baruku
ke kampus, apalagi sekarang, kehidupan baruku tanpa Eron. Teman baikku,
Susan kadang mengenalkanku pada teman atau saudaranya. Memang cukup
membantu agaknya, tapi aku sendiri belum tertarik untuk memulai
hubungan baru selepas aku berpisah dengan Eron. Dari sedikit orang yang
mengenal pribadiku sebenarnya, hanya Susan yang paling dekat denganku.
Ia menunjukkan empati luar biasa padaku akhir-akhir ini. Membujukku
untuk tidak mengurung diri di kamar, dan pergi berjalan-jalan bersama
di akhir pekan. Susan bahkan menyarankan aku untuk mengganti nomor
telepon genggamku, dan bahkan mengganti telepon genggamku sekalian.
Mengajakku berbelanja sampai pegal, menonton film di bioskop, sampai
piknik seharian ke pantai. Setahun ini aku harus melalui berbagai macam
perasaan. Mulai dari jatuh dan terpuruk semenjak kepergian Eron,
terkurung dalam penantian yang menyakitkan, kemudian mencoba pulih dari
keterpurukan. Segalanya terasa begitu sulit, tapi seiring waktu aku
mudah saja melewatinya, sampai sekarang. Aku begitu mudah bahagia
sekarang. Aku tertawa melihat matahari terbit, dan bahagia luar biasa
ketika angin menghembuskan nafasnya padaku, membelai dengan lembut. Aku
merasakan sinar matahari yang hangat sampai ke pori-poriku dan menciumi
wangi bunga pagi harinya. Seperti sore ini, senja yang temaram, dan aku
sedang membaca buku sambil menyelonjorkan kaki. Aku menyandarkan
badanku di kursi malas dan membuka buku yang sudah lama kubeli tapi
belum sempat kubaca. Setahuku itu cerita misteri detektif, dan aku
sedang dalam mood untuk membaca cerita ini. Semuanya begitu sempurna,
aku meletakkan segelas teh hangat dan setoples kue kering manis di meja
sebelah kursi malas. Aku bersantai di ruang membaca, duduk menghadap
jendela dengan damai. Membiarkan angin meniup lembut dan ujung-ujung
gorden terayun lembut sampai pembantuku, Mbak Lastri, tergopoh
menyorongkan gagang telepon padaku. Nampaknya seseorang meneleponku,
tapi dari ekspresi Mbak Lastri, dia tahu aku tak akan menyukai
peneleponku. Dengan muka kaku dan setengah berbisik ia menyerahkan
gagang telepon, "Dari Mas Eron.."
0 komentar :
Posting Komentar