This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 11 Desember 2011

bacaan

Menghadapi Remaja yang Mulai Berpacaran

Yuli (40 tahun), ibu dari remaja perempuan 14 tahun. Ia salah tingkah ketika pertama kali mengetahui putri sulungnya memberikan kado spesial dengan ucapan romantis untuk teman sekolahnya yang berjenis laki-laki. Lho kok, malah ibunya yang salah tingkah?

Pengalaman Yuli mungkin banyak dialami orangtua lain yang baru pertama kali menghadapi anak remajanya mulai berpacaran. Pasalnya, cukup sulit menyikapi peristiwa ini. Beberapa orangtua bersikap keras, dengan memarahi dan memukul anaknya, disertai larangan keluar rumah, karena khawatir anaknya kebablasan.

Beberapa orangtua lain bersikap cuek karena menganggap dunia remaja memang seperti itu. Lalu, bagaimana sikap orangtua yang tepat? Untuk menjawabnya, hal pertama yang perlu direnungkan adalah wajarkah seseorang jatuh cinta ketika masih remaja?


Hakekat Cinta Remaja
Semua orang membutuhkan kehangatan dan kasih sayang dari orang lain, baik orangtua, saudara, sahabat, pasangan (kecuali anak-anak, belum membutuhkan pasangan), bahkan dari Tuhan (pada orang-orang yang religius, cinta Tuhan merupakan keutamaan tertinggi).

Erich Fromm (1900-1980) seorang ahli psikologi dan filsafat sosial yang terkenal dengan bukunya The Art of Loving menyatakan, cinta merupakan jawaban terhadap masalah eksistensi manusia. Hidup dapat berlanjut dengan penuh makna hanya bila manusia hidup dalam cinta.

Tanpa cinta seseorang akan merasa terpisah dari masyarakat dan alam sekitar, mengalami kecemasan tiada tara, karena kesepian dan tidak berdaya menghadapi kehidupan yang membentang. Dalam hal ini cinta persaudaraan (universal) yang sering disebut cinta sesama, merupakan cinta paling fundamental, mendasari segala tipe cinta.

Dasar pemikiran Fromm itu, selain dapat ditengok melalui sejarah peradaban manusia yang tidak pernah lepas dari kisah kegila-gilaan pencarian cinta dan ritual penyembahan yang membangun rasa persekutuan, secara nyata dapat kita simak melalui pertumbuhan-perkembangan manusia ketika memasuki usia remaja. Dengan kondisi perkembangan fisik-psiko-sosial yang khas ketika remaja, manusia mulai mengembangkan kebutuhan akan cinta romantik.

Ketika memasuki masa remaja (12 atau 13 tahun), sering disebut masa pubertas, individu mengalami kematangan fisik dan organ-organ seksual. Hormon pertumbuhan yang sebelumnya sudah aktif, pada masa ini mengalami percepatan pertumbuhan karena kematangan tersebut, dan hormon seks yang semula pasif telah menjadi aktif.

Perubahan fisik yang cepat dan aktivitas hormon seksual, tentu saja kemudian menimbulkan perubahan-perubahan psikis maupun sosial. Dengan perkembangan kognisi (kemampuan berpikir) dan emosi-emosi yang menyertai perkembangan fisik-seksual, secara psikologis remaja mulai merasakan individualitasnya, menyadari perbedaannya dari jenis kelamin lain, merasakan keterpisahan-keterasingan dari dunia kanak-kanak yang baru saja dilaluinya, namun juga masih asing dengan dunia dewasa.

Dalam kondisi ini mereka mulai mempertanyakan identitasnya; Who am I? Meskipun mungkin tak muncul secara eksplisit, di sela warna-warni keceriaan masa remaja, kegelisahan yang menyangkut identitas ini pasti dirasakan. Kegelisahan karena keterpisahan, karena keterasingan! Inilah persoalan eksistensial manusia!

Remaja yang memiliki keluarga yang hangat (penuh cinta) akan dapat melewati masa-masa sulit ini dengan relatif mudah. Sebaliknya mereka yang tidak merasakan kehangatan cinta dalam keluarga, akan memasuki kehidupan yang sulit, ketika mereka masih belum sepenuhnya mengerti kehidupan.

Identitas Diri
Remaja berusaha menemukan jawaban atas kekaburan identitas itu, melalui kelompok sosial di luar keluarga, khususnya kelompok teman sebaya (peer group). Para ahli psikologi sosial tahu persis bahwa kelompok merupakan bagian integral dari identitas sosial individu.

Dengan demikian kita tak perlu heran bila remaja cenderung konform (to conform, mengikuti sikap atau perilaku kelompoknya), karena di sana mereka merasa menemukan ’identitas’ dan berharap tak mengalami penolakan dengan konformitasnya itu. Dalam hal ini orangtua perlu menyadari bahwa keluarga juga merupakan bagian integral identitas sosial setiap anggotanya.

Bila keluarga penuh kehangatan (penuh penerimaan) dan disertai ajaran moral, mereka akan melalui pergulatan masa remajanya dengan mengembangkan nilai-nilai yang diperoleh melalui keluarga, dan selanjutnya membentuk kesadaran akan identitas diri.

Sebaliknya remaja dari keluarga yang berantakan atau penuh kekerasan, hari-harinya cenderung dipenuhi rasa penolakan (marah, memberontak, depresi) dan/atau pencarian penerimaan dari luar keluarga dengan cara tak sehat (membabi buta, jalan pintas melalui seks, alkoholisme dan obat-obatan) dilandasi oleh konsep diri yang negatif. Dalam situasi demikian, identitas diri yang sejati akan sulit ditemukan.

Identitas lebih dari sekadar konsep diri. Ini merupakan kata kunci dari kebermaknaan eksistensi manusia. Merupakan pengenalan (penemuan) atas aspek-aspek di dalam diri yang menjangkau aspek spiritual (kehidupan batin yang berelasi dengan alam, manusia lain, dan Tuhan), yang memberikan ketenangan, rasa keutuhan-kepenuhan yang relatif menetap.

Secara alami setiap remaja menerima tugas untuk menemukan identitas diri masing-masing, agar selanjutnya dapat memasuki masa dewasa secara sehat dan matang. Untuk itu mereka harus bergerak menuju orang lain. Di samping masuk dalam interaksi sosial yang lebih luas di luar keluarga, secara biologis mereka telah dibekali dengan kematangan organ-organ seksual untuk bergerak menuju individu lain yang berlawanan jenis.

Hal ini harus dilihat sebagai tanda alamiah bahwa ketertarikan terhadap lawan jenis disertai dorongan seksual merupakan hal yang kodrati. Sebagai suatu motif, wajar pula bila dorongan semacam ini disertai muatan emosi yang seringkali menimbulkan kecemasan orangtua.

Yang perlu dicatat, rasa kesepian/keterasingan/keterpisahan makin dalam bila remaja tak dapat involve (memiliki keterlibatan emosional) dalam keluarga atau kelompok sosial yang ada. Akibatnya kebutuhan akan kehangatan cinta dapat berkembang secara primitif-instinktif-biologis, berupa dorongan seksual yang membabi-buta.

Catatan penting lain, perihal ketertarikan dan dorongan seksual menuju lawan jenis, pada remaja hal tersebut masih berupa suatu bentuk kesiapan (untuk kelak bersatu jiwa-raga dengan perasaannya), sementara mereka masih harus banyak belajar mencintai lawan jenis (cinta romantik) di tengah pembelajaran mereka yang terus-menerus akan bentuk-bentuk cinta yang lain.

Dorongan seks bukan sesuatu yang harus disalurkan melalui hubungan seksual. Tidak boleh dilupakan bahwa ketertarikan dan dorongan seks menuju lawan jenis merupakan fungsi luhur manusia untuk memenuhi panggilan hidup berkeluarga.

Orangtua harus dapat menjelaskan, bahwa relasi seksual merupakan hal agung, yang akan memberikan rasa kepenuhan (penyatuan kembali dari rasa keterpisahan) hanya bila dilakukan dengan cinta sejati. Sebaliknya, relasi seksual yang dilakukan sebagai pelarian tanpa cinta, bakal membuahkan jurang keterpisahan yang makin dalam.

Cinta berarti keputusan untuk memberikan diri dan menerima pihak lain sepenuhnya sepanjang hidup. Dengan persatuan ini dua orang yang saling mencintai akan saling memperkembangkan dan memperkuat identitas masing-masing dan mengalami rasa kepenuhan. Sebagai makhluk yang hidup dalam pranata sosial, cinta sejati hanya akan menemukan tempat yang nyaman dalam lembaga perkawinan.


Menuju Prinsip-Moral
Eksistensi manusia juga memiliki penyangga (buffer) lain. Menurut Fromm terdapat tiga cara yang sering digunakan manusia; membangun keseragaman (konformitas), kerja rutin dan hiburan rutin, serta kegiatan kreatif.

Bagi remaja hal itu berarti, perlu kesempatan luas untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau berbagai kelompok yang memungkinkan melakukan konformitas secara positif, pelaksanaan tugas (belajar dan tugas lain) dan hiburan (mengembangkan hobi, aktifitas rekreatif) secara rutin, serta melakukan kegiatan kreatif (mencipta dalam bidang sastra, musik, seni rupa, ilmu pengetahuan, dsb.).

Sebagai orangtua tentu kita menginginkan agar anak remaja kita dapat melewati kehidupan ini dengan landasan moral yang kuat, antara lain dapat melewatkan masa pacaran secara sehat, tak melanggar norma susila. Nasihat yang paling sering didengungkan adalah ’perkuat agama’!. Sebenarnya itu tak cukup, bila agama hanya diartikan sebagai sejumlah kewajiban dan larangan.

’Perkuat agama’ hanya akan memiliki pengaruh signifikan bila diartikan sebagai memperkuat nilai-nilai moral ke tingkat yang internal, yaitu tingkat moral tertinggi. Artinya ketika seseorang yang menghadapi dilema-dilema moral, secara reflektif mengembangkan prinsip-prinsip moral pribadi yang otonom (bertindak atas dasar moral yang diyakininya , bukan karena tekanan sosial). Ini dapat terbentuk karena penerimaan nilai moral yang diperoleh melalui lingkungan sosial (keluarga, sekolah, kelompok agama, dll.) yang diolah melalui penalaran dan dicamkan dalam batin.

Berdasarkan proses di atas tampak bahwa penalaran berperan penting bagi pengembangan prinsip moral. Hal ini dapat kita bandingkan dengan dua tingkatan moral yang lebih rendah. Pada stase yang paling rendah, pra-konvensional, orang memberikan penilaian baik atau buruk atas dasar konsekuensi hukuman atau hadiah yang menyertai suatu perbuatan, dan melakukan perbuatan baik demi mendapat hadiah atau menghindari hukuman. Dalam hal ini penalaran yang digunakan adalah tingkat rendah, setara dengan penalaran anak 4-6 tahun.

Sedangkan perkembangan moral yang konvensional, orang menilai baik atau buruk atas dasar persetujuan yang diberikan orang lain. Menilai baik apa yang disetujui orang lain, dan menilai buruk apa yang ditolak orang lain.

Pada tahap ini aturan-aturan yang ada dianggap berharga, tapi belum dapat dipertanggungjawabkannya secara pribadi, sekadar ingin mempertahankan aturan yang ada (melestarikan sistem sosial). Tingkat penalaran yang digunakan di sini setara dengan penalaran anak 7-11 tahun.

Pentingnya penalaran dalam mengembangkan moral yang tinggi bermakna bahwa penanaman moral sejak anak-anak harus disertai reason, penjelasan yang masuk akal mengapa suatu perbuatan boleh atau tidak boleh dilakukan, yang sesuai dengan kemampuan penalaran anak pada masa itu.

Saat memasuki masa remaja, dengan kemampuan penalaran yang sudah berkembang maksimal (mampu berpikir hipotetik dan menganalisa), anak remaja dapat diajak melakukan pertimbangan-pertimbangan moral dengan penalaran yang tinggi sesuai potensi yang dimilikinya. Bila orangtua memperlakukan remajanya dengan larangan tanpa penalaran, itu adalah pembodohan dan penanaman tingkat moral yang rendah. Akibatnya yang dicapai adalah tingkat moral rendah (eksternal), yang tak tahan uji dalam menghadapi dilema moral.

Sabtu, 10 Desember 2011

cerpen

PART 1

Losing

Aku menuangkan gelas ke dalam air dengan tergesa. "Ups", ujarku cepat, ketika air itu mulai meluber ke sisi gelas. Aku membungkukkan badanku sampai ke bibir gelas dan cepat-cepat meminumnya. Dari sudut mataku, bisa kulihat Eron menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan gelisah, berkali-kali ia melirik jam dengan cemas. Eron kemudian menghampiriku dengan langkah-langkahnya yang cepat di sudut cafetaria. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi di sebelahku dengan kesal dan mendesah "Pesawatnya ditunda, delay", ujarnya sambil menatapku tajam. Aku hanya memandangnya tanpa ekspresi. Aku tahu Eron kesal padaku karena aku terlambat mengantarnya ke bandara, dan ketika kukatakan bahwa ia tak perlu cemas bahwa kemungkinan besar keberangkatannya ditunda, ia tak mengucapkan komentar apapun. Ia hanya melirik cemas ke jalan raya dan menyuruhku untuk lebih cepat menyetir. Aku mengatakan hal itu pada Eron hanya untuk menenangkannya, namun aku tak menduga hal ini sungguh terjadi. Eron kesal karena dugaanku benar, karena ia ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Eron kesal karena aku selalu benar dalam banyak hal, bahkan kenyataannya, Eron kesal terhadap semua yang kulakukan. Aku pun tak tahu kenapa aku bisa tahan dengan laki-laki egois seperti Eron, yang selalu berpendapat dirinya paling benar. Ia sering berkata "Jika seseorang tidak ingin benar-benar mengenalku, ya sudah, toh aku tak butuh mereka", ujarnya marah ketika aku menyarankan padanya untuk berbaikan pada teman sekampusnya.
Dan disinilah Eron dan aku sekarang. Kami berada di bandara kecil kota kami, sedang menunggu pesawat yang ditunda sekitar 3 jam. Aku mengawasi Eron dari sudut mataku. Ia masih duduk dengan gelisah di kursinya. Aku mengenang masa lalu, teringat ketika ia mendekatiku. Eron sangat bergantung padaku kala itu. Eron mengajakku kemanapun dia pergi, dan menanyakan segala sesuatu yang ingin dilakukannya padaku. Eron memang tidak pernah mengatakan cinta padaku, ia hanya ingin menghabiskan banyak waktu denganku. Dan aku menyukai Eron apa adanya. Teman-temanku tidak menyukai Eron. Bahkan beberapa diantaranya ada yang terang-terangan mengatakan, "Tampangnya menyebalkan", atau "Ganteng sih, tapi aku kok tidak suka ya", atau sekedar memperingatkan, "Karin, berpisahlah dengannya, dia punya banyak cewek". Tapi aku tutup telinga. Aku tidak mau ribut dengan Eron, aku mencintainya. Toh Eron memperlakukanku dengan baik, meski kadang ia bertingkah menyebalkan. Aku tak pernah mencari tahu banyak tentang Eron dan bertanya ini itu. Aku senang menghabiskan waktu dengan Eron, walau terkadang aku membencinya karena ia lupa atau sengaja tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi olehku selama berhari-hari. Tapi tetap saja dia Eron-ku. Eron yang menyebalkan. Datang dan pergi sesuka hatinya.
Aku dan Eron tak banyak bicara kali ini. Kami membiarkan waktu berlalu dengan lambat dengan sikap diam dan memutuskan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lama kemudiab, aku tak tahan. Kemudian aku memalingkan wajah ke arah Eron yang duduk disebelahku "Setelah kau pergi, apakah kita masih berteman", ujarku tiba-tiba. Eron tampak salah tingkah, sesaat ia terpana memandangku lalu menjawab pelan, "Yeah, kurasa begitu", sahutnya pendek. Aku cuma mengangguk mendengarnya. Aku berani bertaruh, Eron tak akan menghubungiku lagi sesudah ini. Eron memang menjauh dariku akhir-akhir ini, ia bahkan terang-terangan tidak memenuhi undangan dariku dan memilih pergi bersama teman-temannya. Tapi memang begitulah Eron, selalu bertingkah semaunya. Eron telah menyelesaikan kuliahnya di kota kecil ini, dan ia berniat kembali ke tempat asalnya, kota yang lebih besar. Eron membenci kota ini, Eron selalu berkata begitu denganku. Ia memang sering mengajakku keliling kota dengan sepeda motor besarnya, namun ia tak henti-hentinya mengeluh betapa sepinya kota ini. Aku memandang Eron beberapa saat. Laki-laki bertubuh tegap dan tinggi menjulang. Wajhnya tampan dan kulitnya halus. Aku mulai membuka percakapan lagi dengannya, mencoba memcahkan kebekuan. "Hmm...semoga berhasil", ujarku lagi. Kali ini aku tak memandangi Eron. Aku terlalu pedih. Bisa dikatakan, Eron memang tak pernah memperlakukanku spesial, bahkan aku tak yakin dia menganggap aku pacarnya. Tapi entah kenapa aku merasa sedih sekali harus kehilangan Eron. Ada lubang besar yang menganga di dadaku. lagi-lagi Eron hanya terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Sepertinya pesawatnya hampir datang", ujar Eron menyentak lamunanku. Aku mengerling memandangnya. Aku menyingkirkan tas Eron dari bahuku, dan menyerahkan padanya. Eron menerima dengan susah payah, karena ia sendiri juga membawa dua tas besar. "Hati-hati ya", ujarku pelan. Eron hanya mengangguk dan melambai padaku. Diterusakannya langkah menuju ruang keberangkatan. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh, tanpa kata-kata. Aku hanya memandangi punggungnya menjauh dari balik kaca dengan mendesah sedih. Semuanya sudah berakhir sekarang. Aku berniat melupakan Eron selamanya. Meskipun tadi ia sempat mengatakan bahwa ia akan menghubungiku, tapi kurasa ia tak sungguh-sungguh mengatakannya. Aku melangkahkan kaki dengan lemas menuju parkiran bandara. Sambil setengah melamun, aku pulang dengan merana. Pikiranku kosong. Aku tak menyangka bakalan sesakit ini ditinggal Eron. Aku pulang dengan perasaan terpuruk. Meski semua orang bersyukur aku lepas dari Eron, aku tetap saja merasa sedih. Aku kehilangan orang yang benar-benar kusayangi, dan meskipun aku tak pernah tahu perasaanya padaku, aku tak pernah keberatan, asal aku bisa berada disisi Eron.


cerpen

part 2

Waiting

Sehari, dua hari, tiga hari. Aku melewatkan hariku dengan memutar telepon genggamku berulangkali dan menatapnya dari segala arah dengan pandangan merana. Aku tak melihatnya menyala karena ada sms atau telepon dari Eron yang melintas di telepon genggamku. Seminggu kemudian dan minggu-minggu berikutnya, aku memang agak senewen. Namun perilaku ku tak lagi mengamati telepon genggamku seharian, hanya sepintas melirik, lalu mendesah kecewa lagi. Ketika minggu berlalu dan bulan berganti, aku mulai membiasakan diri bahwa Eron memang tidak berniat menghubungiku. Ia sudah melupakanku. Mungkin ia sudah menghapus namaku dalam ingatannya, berpikir seolah aku tak pernah ada, dan tak meninggalkan apapun dalam kehidupan masa lalunya. Dan meskipun pedih, aku berjuang sekuat tenaga mengenyahkan bayang-bayang Eron dari hidupku. Aku harus bangkit, memulai dari awal, membuka lembar kehidupan baru.
Sudah setahun semenjak kepergian Eron yang tanpa kabar, aku melewati hari-hariku dengan kepedihan. Meski begitu, aku tak berminat menunggunya lagi. Tidak setelah aku begitu frustasi belakangan ini. Walau hati kecilku mengharapkannya, nampaknya aku sudah lebih ikhlas kali ini. Temanku mengatakan, bahwa aku nampak lebih bahagia tanpa Eron. Sebagian temanku menganggap aku lebih sensitif pasca kehilangan Eron, tapi selebihnya menurut mereka aku baik-baik saja. Aku hanya mengembangkan senyum palsu ketika semua orang bertanya tentang kabar Eron padaku. Maklum saja, dulu kami tak terpisahkan. Seluruh kampus tahu aku selalu bersama Eron kemanapun kami pergi -- tepatnya dialah yang mengikutiku kemana-mana, tapi nyatanya sekarang aku seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku mudah bingung, dan seperti teman-temanku bilang -- sangat sensitif. Aku gelisah menunggu Eron, tapi memang aku sepertinya terjebak dalam penantian tak berakhir. Dan aku hanya bisa mengira-ira, dimanakah ujung jalan dari kisah cintaku bersama Eron. Setahun ini menjelaskan banyak padaku, bahwa sudah seharusnya aku mencari jalan lain. Jalan yang satu ini sudah hilang, dan aku akan semakin tersesat jika mengikutinya. Kadang aku masih sering bermimpi tentang Eron, tentang kami. Kadang aku terbangun dengan gelisah tengah malam. Aku duduk sambil menekuk lututku yang gemetar, keringat dingin membasahi punggung dan keningku. Mimpi-mimpi itu memang kadang indah, tapi lebih banyak mimpi menyeramkan yang membuatku terbangun dengan perasaan sedih keesokan paginya. Mimpi-mimpi itu memang sering menghantuiku awalnya, tapi sudah banyak berkurang akhir-akhir ini. Dan meskipun aku mencoba menyangkalnya, proses melepaskan diri dari sakit hati dan kenangan masa lalu amat sangatlah tidak gampang. Mengingat aku mencintai Eron. Dan aku mencintainya, sungguh-sungguh, tanpa syarat, dan teramat dalam.
Penantian ini membawaku ke kesadaran baru, dan hidup baru, dan segala sesuatunya membuatku gugup sekarang. Aku memang mudah gugup ketika menghadapi segala sesuatu yang baru. Aku bahkan gugup ketika memakai sepatu baruku ke kampus, apalagi sekarang, kehidupan baruku tanpa Eron. Teman baikku, Susan kadang mengenalkanku pada teman atau saudaranya. Memang cukup membantu agaknya, tapi aku sendiri belum tertarik untuk memulai hubungan baru selepas aku berpisah dengan Eron. Dari sedikit orang yang mengenal pribadiku sebenarnya, hanya Susan yang paling dekat denganku. Ia menunjukkan empati luar biasa padaku akhir-akhir ini. Membujukku untuk tidak mengurung diri di kamar, dan pergi berjalan-jalan bersama di akhir pekan. Susan bahkan menyarankan aku untuk mengganti nomor telepon genggamku, dan bahkan mengganti telepon genggamku sekalian. Mengajakku berbelanja sampai pegal, menonton film di bioskop, sampai piknik seharian ke pantai. Setahun ini aku harus melalui berbagai macam perasaan. Mulai dari jatuh dan terpuruk semenjak kepergian Eron, terkurung dalam penantian yang menyakitkan, kemudian mencoba pulih dari keterpurukan. Segalanya terasa begitu sulit, tapi seiring waktu aku mudah saja melewatinya, sampai sekarang. Aku begitu mudah bahagia sekarang. Aku tertawa melihat matahari terbit, dan bahagia luar biasa ketika angin menghembuskan nafasnya padaku, membelai dengan lembut. Aku merasakan sinar matahari yang hangat sampai ke pori-poriku dan menciumi wangi bunga pagi harinya. Seperti sore ini, senja yang temaram, dan aku sedang membaca buku sambil menyelonjorkan kaki. Aku menyandarkan badanku di kursi malas dan membuka buku yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca. Setahuku itu cerita misteri detektif, dan aku sedang dalam mood untuk membaca cerita ini. Semuanya begitu sempurna, aku meletakkan segelas teh hangat dan setoples kue kering manis di meja sebelah kursi malas. Aku bersantai di ruang membaca, duduk menghadap jendela dengan damai. Membiarkan angin meniup lembut dan ujung-ujung gorden terayun lembut sampai pembantuku, Mbak Lastri, tergopoh menyorongkan gagang telepon padaku. Nampaknya seseorang meneleponku, tapi dari ekspresi Mbak Lastri, dia tahu aku tak akan menyukai peneleponku. Dengan muka kaku dan setengah berbisik ia menyerahkan gagang telepon, "Dari Mas Eron.."

(bacaan)8 Tanda Si Dia Belum Melupakan Mantannya

8 Tanda Si Dia Belum Melupakan Mantannya

yhhaaang..., tombolku ditekan dong yaanng...... Anda merasa sang mantan tidak sepenuhnya fokus pada hubungannya dengan Anda, namun Anda tak tahu pasti apa sebabnya? Anda ingin menegurnya karena ternyata ia masih berhubungan dengan mantannya, tetapi merasa tidak memiliki bukti-bukti kuat bahwa masih ada “sesuatu” di antara mereka?

Barangkali, Anda tidak memerlukan bukti. Karena sebagai kekasih, si dia seharusnya menjaga perasaan Anda. Apalagi bila Anda mendapati si dia melakukan hal-hal berikut, tandanya dia memang belum melupakan sang mantan.

Masih sering SMS-an. Dia sering mengecek ponsel untuk mengetahui apakah ada missed call atau SMS dari seseorang. Ternyata, ia masih sering menerima SMS dari sang mantan. Bila dia ternyata menyembunyikan hal itu di belakang Anda karena tidak ingin isi SMS dengan sang mantan diketahui, Anda pantas curiga, jangan-jangan dia merencanakan sesuatu dengan sang mantan.

Merayakan ulang tahun untuk mantan. Sekadar mengucapkan selamat ulang tahun melalui Facebook, atau si dia malah merencanakan untuk merayakan ulang tahun tersebut bersama mantannya, tentu jauh bedanya. Jika memang mereka hanya berteman, Anda tidak perlu cemas apabila dia ingin menghadiri undangan pesta ulang tahun mantan. Jangan ragu untuk memberitahunya bahwa Anda juga ingin turut hadir ke perayaan tersebut karena ingin mengenal teman-temannya juga. Tetapi bila mereka hanya akan merayakannya berdua, Anda harus berhati-hati.

Menghadiri resepsi perkawinan teman bersama-sama. Sebenarnya si dia sudah merencanakan untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman bersama sang mantan jauh sebelum mereka putus hubungan. Namun membayangkan mereka akan berangkat bersama, lalu makan dan berbincang-bincang intim mengenai masa lalu, tentu membuat Anda resah. Segera ungkapkan kecemasan Anda ini, namun di sisi lain tetaplah berikan kepercayaan Anda untuknya.

Si dia terus-menerus membahas keburukan mantannya. Anda perlu curiga ketika ada seorang selebriti terus-menerus membahas keburukan mantannya, atau betapa buruk perlakuan mantan terhadap dirinya. Hal ini bukan berarti ia membenci mantannya; justru sebaliknya: ia masih sangat mencintainya, dan merasa begitu sakit hati sehingga tak bisa berhenti mengungkap keburukan-keburukan mantannya. Bila memang sudah memilih Anda, seharusnya si dia berfokus pada Anda. Lagipula, kalau ia bisa terang-terangan menjelek-jelekkan mantannya, bayangkan apa yang akan terjadi bila akhirnya Anda putus dengan dirinya.

Rela menjadi “tukang” untuk sang mantan. Si dia kebetulan memang pria yang cekatan. Tetapi bila sebentar-sebentar mantannya menelepon karena ada barang yang rusak, dan kekasih Anda dengan sukarela datang ke rumahnya untuk memperbaikinya, hal ini tidak wajar. Walaupun si dia termasuk pria penolong, seharusnya hal semacam itu tak lagi menjadi kewajibannya. Si dia juga harus waspada, jangan-jangan si mantan hanya ingin memanfaatkannya. Sampaikan keberatan Anda ini. Jawaban dari pasangan -apapun itu- justru akan menunjukkan bagaimana sebenarnya perasaannya.

Mengabarkan momen-momen pentingnya pada si mantan. Bila hubungan mereka sudah begitu dekat, termasuk dengan anggota keluarganya, jangan heran bila pasangan merasa ingin mengabarkan sesuatu yang penting pada mereka. Misalnya, memberitahukan bahwa ayahnya dirawat di rumah sakit, atau ia akan mempunyai keponakan. Hal ini masih wajar, asalkan si dia menyampaikan kabar penting itu kepada Anda lebih dulu, baru kepada keluarga sang mantan. Bila Anda baru tahu belakangan, inilah yang tidak wajar.

Masih menyimpan foto-foto dengan sang mantan
Tidak ada perempuan yang ingin melihat foto mesra pasangannya bersama mantan. Entah foto tersebut diletakkan di ruang tamu, atau disimpan dalam folder khusus di komputer, jika Anda mendapati dia masih sering membuka-buka album foto itu, ada kemungkinan kekasih Anda memang masih memikirkan mantannya.

Tidak suka sang mantan berkencan lagi. Anda mungkin mengetahui bahwa mantan kekasih Anda sudah memiliki pasangan baru karena mengganti status Facebook-nya dari “Single” menjadi “In relationship”. Si dia, tentu saja sudah tahu hal ini. Anehnya, dia terlihat tidak menyukai kenyataan tersebut, dan selalu saja mencemaskannya. Maka, tanyakan langsung saja padanya mengapa hal itu masih membuatnya terganggu.

(Reading)8 Signs He's Not Forget The ex

8 Signs He's Not Forget The exyhhaaang ..., tombolku pressed yaanng dong ...... You feel the former is not fully focused on her relationship with you, but you do not know exactly why? You want to call it because it turned out he was still in touch with his ex, but feel they have no strong evidence that there was "something" in between them?
Perhaps, you do not need proof. Because as a lover, he's supposed to keep your feelings. Especially when you find him doing the following things, we know he did not forget about the former.
SMS's are still frequent. He often checked the phone to determine whether there is a missed call or SMS from someone. Apparently, he still often receive SMS from the former. When he turns to hide it behind you because they do not want the contents of the SMS with the former in mind, you deserve suspicion, lest he is planning something with the former.
Celebrating birthdays for the former. Just to say happy birthday via Facebook, or the he even planned to celebrate the birthday together with his ex, of course is much difference. If indeed they are just friends, you do not have to worry if she wanted to attend a birthday party invitation ex. Do not hesitate to tell him that you also want attended to the ceremony because they want to know his friends too. But if they only would celebrate both, you have to be careful.
Attend a friends wedding reception together. In fact the he had planned to attend a friend's wedding reception with his former long before they broke up. But imagine they would go together, and ate and talked intimately about the past, certainly makes you uneasy. Immediately express your anxiety, but on the other hand still give you trust him.
He's constantly discussed the evils ex. You need to be suspicious when there is a celebrity constantly discussing the ugliness of his ex, or how bad treatment towards her ex. This does not mean she hates her ex; just the opposite: he still loved her, and felt so hurt that she could not stop revealing the evils ex. If it has chosen you, he's supposed to focus on you. Moreover, if he could openly bad-mouthing his ex, imagine what would happen if you end up breaking up with him.
Willing to be a "handyman" for the former. The coincidence he was a man who deftly. But when her ex calls intermittently because of damaged goods, and your loved one willingly come to her house to fix it, this is not fair. Although he includes men's auxiliary, should that kind of thing no longer an obligation. The he also must be vigilant, lest the former only want to use. Convey your objection is. Answer any of the couple-it-it will show how the actual feelings.
Preaching the importance of the moments on the former. When their relationship was so close, including with family members, do not be surprised if your partner feels like to preach something important to them. For instance, tells us that his father was hospitalized, or he will have a nephew. It is still reasonable, as long as it's important that he broke the news to you first, to the family of the former. When you found out later, this is not fair.
Still save the pictures with the formerNo woman wants to see photos with former intimate partner. Whether the image is placed in the living room, or stored in a special folder on your computer, if you find he still flipping through the photo album, there is the possibility of your loved one is still thinking about her ex.
Do not like the former dating again. You may find that ex-lover you already have a new partner because of changing her Facebook status from "Single" to "In relationship". The he, of course, already know this. Strangely, he looks not like the fact, and always worried about him. So, just ask him why it still bothered him.

Artikel Geostrategi


GEOSTRATEGI
Geostrategi merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografi negara untuk menentukan tujuan, kebijakan. Geostrategi merupakan pemanfaatan lingkungan untuk mencapai tujuan politik. Geostrategi juga merupakan metode mewujudkan cita-cita proklamasi. Geostrategi juga untuk mewujudkan, mempertahankan integrasi bangsa dalam masyarakat majemuk dan heterogen.
Sebagai contoh pertimbangan geostrategis untuk negara dan bangsa Indonesia adalah kenyataan posisi silang Indonesia dari berbagai aspek, disamping aspek geografi juga aspek-aspek demografi, ideology, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan.
Strategi biasanya menjangkau masa depan, sehingga pada umumnya strategi disusun secara bertahap dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian geostrategi adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan konstelasi geografi sebagai factor utamanya.
Hubungan Geopolitik dan Geostrategi
Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Dengan mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman. Selain itu hubungan geopolitik dan geostrategi terdapat astra grata.


KOMENTAR:
Saya sependapat dengan isi artike diatas dimana geostrategic penting untuk ketahanan Nasional, ada sedikit yang saya tambahkan mengenai geostrategi, menurut saya geostrategi juga adalah Kepentingan nasional yang merupakan kepentingan bangsa dan negara untuk mewujudkan stabilitas nasional bidang politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan. dan Pembangunan nasional dimana semua kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh negara atau pemerintah yang bertujuan un-tuk mengadakan pembangunan fisik, sikap mental dan moderni-sasi pemikiran bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia.

                                                                                                                                       By:hasyim D...

Artikel Geopolitik Nelayan

Geopolitik Nelayan
Kepedulian kita terhadap sektor kelautan dan perikanan masih belum sistematis.
Kepedulian baru muncul ketika ada kasus-kasus tertentu saja, seperti penangkapan aparat pengawas kita oleh tentara Malaysia, kasus pasir laut, Ambalat, lepasnya Sipadan-Ligitan, dan seterusnya. Artinya, kepedulian muncul ketika kasusnya menyangkut isu geopolitik dan harga diri bangsa.
Sebaliknya, isu sosial ekonomi dan lingkungan belum menyentuh hati pemerintah. Tergesernya isu sosial-ekonomi itu sekaligus menggeser kepedulian pemerintah kepada nasib nelayan. Siapa peduli ketika nelayan tak melaut karena kesulitan bahan bakar, modal, cuaca tak bersahabat, atau lautnya tercemar?
Padahal, justru nelayan punya potensi peran secara geopolitik sehingga mereka berhak untuk dipedulikan dan dibela.
Cara pandang baru
Cara pandang terhadap nelayan memang harus diubah. Nelayan tidak semata pelaku ekonomi yang menghasilkan protein hewani, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari pilar sabuk pengaman nasional. Karena itu, peran barunya adalah peran geopolitik. Dalam peran baru ini, nelayan harus dipersenjatai, bukan dengan senjata betulan, melainkan dengan memberdayakan secara ekonomi.
Dalam konteks pertahanan secara ekstrinsik, nelayan memiliki peran sebagai ”pengawas” laut yang selalu berkoordinasi dengan aparat. Dengan demikian, penting mendidik mereka untuk memperkuat nasionalisme, memahami isu-isu pertahanan serta secara teknis mampu menggunakan alat-alat komunikasi di laut. Untuk itulah butuh wadah asosiasi nelayan untuk melancarkan proses ini.
Namun, reposisi nelayan ke arah peran geopolitik tetap sangat bergantung pada posisi sosial ekonominya. Dalam perspektif geopolitik, wilayah perbatasan tidak hanya harus diisi pertahanan militer yang tangguh, tetapi juga didukung aktivitas ekonomi yang tangguh pula. Sipadan dan Ligitan lepas karena alasan lemahnya kita memanfaatkan pulau itu untuk aktivitas ekonomi.
Dalam konteks pertahanan secara intrinsik, nelayan harus berdaya secara ekonomi untuk menopang peran geopolitik tersebut. Jika nelayan kita cukup tangguh, maka nelayan asing takut memasuki wilayah laut kita. Pertanyaannya, bagaimana membuat nelayan kita tangguh?
Pertama, modernisasi alat tangkap menjadi keniscayaan. Fadel Muhammad sudah mencanangkan program penguatan armada penangkapan, yang ditunggu segera implementasinya. Dalam jangka pendek, alokasi program tersebut bisa difokuskan untuk nelayan perbatasan. Ini pun tidak boleh lepas dari desain industrialisasi perikanan, termasuk di dalamnya aspek pasar dan pengelolaan sumber daya, sehingga upaya ini tidak malah merusak sumber daya.
Meski demikian, untuk memperkuat armada nelayan butuh penanganan khusus. Pengalaman kegagalan program bantuan kapal umumnya terjadi karena tidak diikuti dengan kesiapan modal kerja, keterampilan menangani mesin, pemahaman kondisi sumber daya, adaptasi alat tangkap baru, manajemen usaha, dan sikap mental.
Mengubah nelayan dari armada kecil menjadi besar, dari harian menjadi mingguan atau bulanan, tidaklah mudah. Ini tidak sesederhana transfer kepemilikan kapal dari pemerintah ke nelayan. Akan tetapi, hal itu juga bukan hal yang mustahil.
Tradisional, tapi tangguh
Pengalaman modernisasi di Pekalongan tahun 1970-1980 menunjukkan, nelayan tradisional bisa menjadi nelayan tangguh. Pengusaha-pengusaha perikanan di Pekalongan saat ini umumnya berlatar belakang sebagai anak buah kapal pada kapal-kapal milik nelayan Bagansiapi-api. Proses pendampingan pemilik kapal terhadap calon pemilik kapal menjadi kunci keberhasilan modernisasi tersebut.
Kedua, perlu pembenahan infrastruktur wilayah perbatasan untuk menunjang pemberdayaan nelayan. Ekonomi akan tumbuh dengan baik jika infrastrukturnya baik. Saat ini sangatlah mungkin memperkuat infrastruktur karena Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendapatkan alokasi terbesar pada RAPBN 2011 dengan Rp 56,5 triliun. Begitu pula Kementerian Pertahanan di urutan ketiga sebesar Rp 45,2 triliun. Dari dana-dana sebesar itu, berapa yang dialokasikan untuk menunjang pengembangan infrastruktur perbatasan maupun pertahanan di laut?
Jika nelayan berdaya di laut, maka sama saja mereka menjadi pilar pertahanan bangsa. Peran strategis ini harus dihargai. Karena itu, agenda wajibnya adalah memberdayakan nelayan dan melindungi mereka dari berbagai ancaman ekologis, perdagangan, dan politik. Jangan hanya reaktif setelah ada kejadian, tetapi juga harus proaktif memasukkan hal tersebut menjadi bagian desain besar sebagai bangsa bahari.
Dengan demikian, tidak ada alasan lagi untuk tidak peduli kepada nelayan karena nelayan penting secara geopolitik.
KOMENTAR:
Artikel di atas sangat benar dimana nelayan bukan saja sekedar oknum yang mencari penghasilan  ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup melainkan menjadi pilar pertahanan nasional, dimana secara tidak langsung nelayan yang pada realitanya menguasai wilayah yang mereka eksploitasi sehingga secara tidak langsung nelayan menjadi pertanan nasional yang berimbas pada geopolitik di Indonesia, maka dari itu pemerintah seharusnya lebih memperhatikan nasib para nelayan, dengan memberi pengetahuan eksploitasi,navigasi,penambahan kelembagaan, pemberian modal dan lain-lain, agar masyarakat nelayan menjadi sejahterah dan berimbas pula pada pertahanan bangsa dan geopolitik di Indonesia. 

                                                                                                                                        By:Hasyim D...

Artikel Identitas Nasional

IDENTITAS NASIONAL
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitasbangsanya. Agar dapat memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia. Identitas berarti ciri-ciri,sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.Uraiannya mencakup :1.identitas manusia Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan monopluralistik. Keadaan manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus monopluralistik tersebut akan mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain dipengaruhi keadaan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang menentukan identitas manusia baik secara individu maupun kolektif adalah perpaduan antara keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi nilai-nilai yang dianutnya.2.identitas nasionalIdentitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut sosiokultural atau religiositas. - Identitas fundamental/ ideal = Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.- Identitas instrumental = identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu kebangsaan.- Identitas religiusitas = Indonesia pluralistik dalam agama dan kepercayaan.- Identitas sosiokultural = Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.- Identitas alamiah = Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.3.Nasionalisme IndonesiaNasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat merebut kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang berwatak chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.4. Integratis NasionalMenurut Mahfud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena pada hakekatnya integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa.KesimpulanIdentitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.


KOMENTAR:
Untuk memupuk rasa nasionalisme dan integritas kita sebagai rakyak Indonesia maka kita harus menjunjung tinggi identitas nasional kita, dimana realita yang ada, kita dihadapi dengan masalah-masalah, ketika kaum muda kini lebih dan dipengaruhi budaya asing misalnya, lebih menyukai bahasa asing,memakai pakaian yang tidak bermoral atau bahkan menjadi orang yang tidak bertuhan, maka dari itu kita sebagai kaum muda penerus bangsa hendaknya menjunjung tinggi identitas nasional, dengan cara mengaplikasikannya kekehidupan social. Yakni mempunyai landasan UUD 1945, pancasila sebagai filsafah bangsa ,dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Karna identitas nasional kita adalah aset yang paling berharga yang hanya  Indonesia yang mempunyai identitas nasional tersebut.

                                                                                                                                   By: Hasyim D...

Artikel HAM

 HAM
Ide “gila” dari seorang anggota DPR terhormat membuat banyak kalangan resah, terutama para siswi yang diharuskan mengikuti tes keperawanan agar bisa diterima di sekolah bersangkutan. Tak sedikit yang mempertanyakan latar belakang munculnya gagasan ini, apa relevansinya antara perawan atau tidak dalam menentukan anak ini layak meneruskan jenjang pendidikannya?
Merampas hak seseorang dengan dalih kesucian dan moralitas sebenarnya bukan hal yang baru di negeri ini. Waktu kasus video mesum Aril-Luna merebak, tak sedikit dari mereka yang mengaku-ngaku pejuang moralitas berteriak lantang. Mereka merasa mendapatkan alasan pembenar untuk “menghukum” para pelaku serta menggeneralisasikan setiap kasus asusila. Bahkan hebatnya, video tersebut dituding sebagai penyebab meningkatnya kasus pemerkosaan.
Dengan bertindak demikian, sepertinya semua persoalan sudah terselesaikan. Tidak perlu lagi susah payah mengexplore beratnya himpitan ekonomi sosial para “pendosa” tersebut. Semua kesalahan langsung ditimpakan kepada kedua sejoli yang kebetulan mengabadikan hubungan mesum mereka. Gampang kan?
Kompleksitas masalah membutuhkan analisa yang mendalam pula. Bukan hanya saling menimpakan kesalahan lantas semua persoalan selesai. Apalagi jika menyangkut wilayah privat seseorang. Jika semua siswi yang hendak melanjutkan studi bukan perawan lagi, apakah kita dengan serta merta menuding mereka semua bejat dan nista?
Dalam kasus ini, pihak perempuanlah yang selalu menjadi korban. Mereka diperhadapkan pada situasi serba menuntut. Jika salah satu faktor tidak terpenuhi maka mereka dicap abnormal dan tidak layak diterima lagi dalam kehidupan sosial.
Tak heran jika sekarang kita melihat kuatnya hasrat publik menentang ide tersebut. Hak warga untuk melindungi wilayah privacy mereka dan itu dijamin oleh undang-undang. Terlepas dari latar belakang munculnya ide tersebut.
Pengusung moralitas yang sok suci hendaknya berkaca diri dulu. Masih banyak persoalan bangsa yang harus segera diselesaikan dan bukan terpaku pada urusan perawan atau perjaka tulen.
KOMENTAR:
Saya sependapat dengan isi artikel di atas, di mana masalah kompleks mengenai HAM itu menjadi hal yang biasa. Kita ketahui bahwa hak asai adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Maka janganlah kita mengucilkan seseorang karna telah berubah identitas dalam kehidupan social nya melainkan bagaimana kita menyikapi dan mempunyai sikap toleransi kepada setiap manusia, maka dari itu, janganlah kita bersikap mempunyai moralitas yang tinggi terhadap hal seperti itu, melaikan kita bercermin kepada hal-hal lain yang memang harus segera diselesaikan.  Jadi, hargailah hak dasar yang dimiliki setiap individu agar menciptakan kehidupan social yang baik. Baik dalam bernegara maupun bermasyarakat.

                                                                                                                                         By: Hasyim D...

Artikel filsafat pancasila


FILSAFAT PANCASILA
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik para founding
fathers ketika negara Indonesia didirikan. Namun dalam perjalanan panjang
kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila sering mengalami berbagai deviasi dalam
aktualisasi nilai-nilainya. Deviasi pengamalan Pancasila tersebut bisa berupa penambahan,
pengurangan, dan penyimpangan dari makna yang seharusnya. Walaupun seiring dengan itu
sering pula terjadi upaya pelurusan kembali.
Pancasila sering digolongkan ke dalam ideologi tengah di antara dua ideologi besar dunia
yang paling berpengaruh, sehingga sering disifatkan bukan ini dan bukan itu. Pancasila bukan
berpaham komunisme dan bukan berpaham kapitalisme. Pancasila tidak berpaham
individualisme dan tidak berpaham kolektivisme. Bahkan bukan berpaham teokrasi dan bukan
perpaham sekuler. Posisi Pancasila inilah yang merepotkan aktualisasi nilai-nilainya ke dalam
kehidupan praksis berbangsa dan bernegara. Dinamika aktualisasi nilai Pancasila bagaikan
pendelum (bandul jam) yang selalu bergerak ke kanan dan ke kiri secara seimbang tanpa pernah
berhenti tepat di tengah.
Pada saat berdirinya negara Republik Indonesia, kita sepakat mendasarkan diri pada ideologi
Pancasila dan UUD 1945 dalam mengatur dan menjalankan kehidupan negara.
Namun sejak Nopember 1945 sampai sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pemerintah
Indonesia mengubah haluan politiknya dengan mempraktikan sistem demokrasi liberal.Dengan
kebijakan ini berarti menggerakan pendelum bergeser ke kanan. Pemerintah Indonesia menjadi
pro Liberalisme.Deviasi ini dikoreksi dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Dengan
keluarnya Dekrit Presiden ini berartilah haluan politk negara dirubah. Pendelum yang posisinya
di samping kanan digeser dan digerakan ke kiri.Kebijakan ini sangat menguntungkan dan
dimanfaatkan oleh kekuatan politik di Indonesia yang berhaluan kiri (baca: PKI) Hal ini tampak
pada kebijaksanaan pemerintah yang anti terhadap Barat (kapitalisme) dan pro ke Kiri dengan
dibuatnya poros Jakarta-Peking dan Jakarta- Pyong Yang. Puncaknya adalah peristiwa
pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa ini menjadi pemicu tumbangnya

pemerintahan Orde Lama (Ir.Soekarno) dan berkuasanya pemerintahan Orde Baru (Jenderal
Suharto). Pemerintah Orde Baru berusaha mengoreksi segala penyimpangan yang dilakukan
oleh regim sebelumnya dalam pengamalan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah Orde Baru
merubah haluan politik yang tadinya mengarah ke posisi Kiri dan anti Barat menariknya ke
posisi Kanan. Namun regim Orde Barupun akhirnya dianggap penyimpang dari garis politik
Pancasila dan UUD 1945, Ia dianggap cenderung ke praktik Liberalisme-kapitalistik dalam
menggelola negara. Pada tahun 1998 muncullah gerakan reformasi yang dahsyat dan berhasil
mengakhiri 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Setelah tumbangnya regim Orde Baru telah muncul
4 regim Pemerintahan Reformasi sampai saat ini. Pemerintahan-pemerintahan regim Reformasi
ini semestinya mampu memberikan koreksi terhadap penyimpangan dalam mengamalkan
Pancasila dan UUD 1945 dalam praktik bermasyarakat dan bernegara yang dilakukan oleh Orde
Baru.

2.Dinamika Aktualisasi Nilai Pancasila
2.1.Kerangka Teoritik
Alfred North Whitehead (1864 – 1947), tokoh utama filsafat proses, berpandangan bahwa
semua realitas dalam alam mengalami proses atau perubahan, yaitu kemajuan, kreatif dan baru.
Realitas itu dinamik dan suatu proses yang terus menerus “menjadi”, walaupun unsur
permanensi realitas dan identitas diri dalam perubahan tidak boleh diabaikan. Sifat alamiah itu
dapat pula dikenakan pada ideologi Pancasila sebagai suatu realitas (pengada). Masalahnya,
bagaimanakah nilai-nilai Pancasila itu diaktualisasikan dalam praktik kehidupan berbangsa dan
bernegara ? dan, unsur nilai Pancasila manakah yang mesti harus kita pertahankan tanpa
mengenal perubahan ?
Moerdiono (1995/1996) menunjukkan adanya 3 tataran nilai dalam ideologi Pancasila. Tiga
tataran nilai itu adalah:
Pertama, nilai dasar, yaitu suatu nilai yang bersifat amat abstrak dan tetap, yang terlepas dari
pengaruh perubahan waktu.Nilai dasar merupakan prinsip, yang bersifat amat abstrak, bersifat
amat umum, tidak terikat oleh waktu dan tempat, dengan kandungan kebenaran yang bagaikan
aksioma.Dari segi kandungan nilainya, maka nilai dasar berkenaan dengan eksistensi sesuatu,
yang mencakup cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri khasnya. Nilai dasar Pancasila ditetapkan
oleh para pendiri negara.Nilai dasar Pancasila tumbuh baik dari sejarah perjuangan bangsa
Indonesia melawan penjajahan yang telah menyengsarakan rakyat, maupun dari cita-cita yang
ditanamkan dalam agama dan tradisi tentang suatu masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan seluruh warga masyarakat.
Kedua, nilai instrumental, yaitu suatu nilai yang bersifat kontekstual. Nilai instrumental
merupakan penjabaran dari nilai dasar tersebut, yang merupakan arahan kinerjanya untuk kurun
waktu tertentu dan untuk kondisi tertentu. Nilai instrumental ini dapat dan bahkan harus
disesuaikan dengan tuntutan zaman. Namun nilai instrumental haruslah mengacu pada nilai
dasar yang dijabarkannya. Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamik dalam
bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama, dalam batas-batas yang
dimungkinkan oleh nilai dasar itu.Dari kandungan nilainya, maka nilai instrumental merupakan
kebijaksanaan, strategi, organisasi, sistem, rencana, program, bahkan juga proyek-proyek yang
menindaklanjuti nilai dasar tersebut. Lembaga negara yang berwenang menyusun nilai
instrumental ini adalah MPR, Presiden, dan DPR.
Ketiga, nilai praksis, yaitu nilai yang terkandung dalam kenyataan sehari-hari, berupa cara

bagaimana rakyat melaksanakan (mengaktualisasikan) nilai Pancasila. Nilai praksis terdapat
pada demikian banyak wujud penerapan nilai-nilai Pancasila, baik secara tertulis maupun tidak
tertulis, baik oleh cabang eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, oleh organisasi kekuatan sosial
politik, oleh organisasi kemasyarakatan, oleh badan-badan ekonomi, oleh pimpinan
kemasyarakatan, bahkan oleh warganegara secara perseorangan. Dari segi kandungan nilainya,
nilai praksis merupakan gelanggang pertarungan antara idealisme dan realitas.
Jika ditinjau dari segi pelaksanaan nilai yang dianut, maka sesungguhnya pada nilai
praksislah ditentukan tegak atau tidaknya nilai dasar dan nilai instrumental itu. Ringkasnya
bukan pada rumusan abstrak, dan bukan juga pada kebijaksanaan, strategi, rencana, program
atau proyek itu sendiri terletak batu ujian terakhir dari nilai yang dianut, tetapi pada kualitas
pelaksanaannya di lapangan. Bagi suatu ideologi, yang paling penting adalah bukti
pengamalannya atau aktualisasinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Suatu ideologi dapat mempunyai rumusan yang amat ideal dengan ulasan yang amat logis serta
konsisten pada tahap nilai dasar dan nilai instrumentalnya. Akan tetapi, jika pada nilai
praksisnya rumusan tersebut tidak dapat diaktualisasikan, maka ideologi tersebut akan
kehilangan kredibilitasnya.Bahkan Moerdiono (1995/1996: 15) menegaskan, bahwa bahwa
tantangan terbesar bagi suatu ideologi adalah menjaga konsistensi antara nilai dasar, nilai
instrumental, dan nilai praksisnya. Sudah barang tentu jika konsistensi ketiga nilai itu dapat
ditegakkan, maka terhadap ideologi itu tidak akan ada masalah. Masalah baru timbul jika
terdapat inkonsisitensi dalam tiga tataran nilai tersebut.
Untuk menjaga konsistensi dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila ke dalam praktik hidup
berbangsa dan bernegara, maka perlu Pancasila formal yang abstrak-umum-universal itu
ditransformasikan menjadi rumusan Pancasila yang umum kolektif, dan bahkan menjadi
Pancasila yang khusus individual (Suwarno, 1993: 108). Artinya, Pancasila menjadi sifat-sifat
dari subjek kelompok dan individual, sehingga menjiwai semua tingkah laku dalam lingkungan
praksisnya dalam bidang kenegaraan, politik, dan pribadi.
Driyarkara menjelaskan proses pelaksanaan ideologi Pancasila, dengan gambaran gerak
transformasi Pancasila formal sebagai kategori tematis (berupa konsep, teori) menjadi kategori
imperatif (berupa norma-norma) dan kategori operatif (berupa praktik hidup). Proses
tranformasi berjalan tanpa masalah apabila tidak terjadi deviasi atau penyimpangan, yang
berupa pengurangan, penambahan,dan penggantian (dalam Suwarno, 1993: 110- 111).
Operasionalisasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara haruslah
diupayakan secara kreatif dan dinamik, sebab Pancasilasebagai ideologi bersifat futuralistik.
Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang dicita-citakan
dan ingin diwujudkan.
Masalah aktualisasi nilai-nilai dasar ideologi Pancasila ke dalam kehidupan praksis
kemasyarakatan dan kenegaraan bukanlah masalah yang sederhana. Soedjati Djiwandono (1995:
2-3) mensinyalir, bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan yang mendasar dalam cara orang
memahami dan menghayati Negara Pancasila dalam berbagai seginya. Kiranya tidak tepat
membuat “sakral” dan taboo berbagai konsep dan pengertian, seakan-akan sudah jelas betul dan
pasti benar, tuntas dan sempurna, sehingga tidak boleh dipersoalkan lagi. Sikap seperti itu
membuat berbagai konsep dan pengertian menjadi statik, kaku dan tidak berkembang, dan
mengandung resiko ketinggalan zaman, meskipun mungkin benar bahwa beberapa prinsip dasar
memang mempunyai nilai yang tetap dan abadi. Belum teraktualisasinya nilai dasar Pancasila
secara konsisten dalam tataran praksis perlu terus menerus diadakan perubahan, baik dalam arti
konseptual maupun operasional. Banyak hal harus ditinjau kembali dan dikaji ulang. Beberapa

mungkin perlu dirubah, beberapa lagi mungkin perlu dikembangkan lebih lanjut dan dijelaskan
atau diperjelas, dan beberapa lagi mungkin perlu ditinggalkan.
Aktualisasi nilai Pancasila dituntut selalu mengalami pembaharuan. Hakikat pembaharuan
adalah perbaikan dari dalam dan melalui sistem yang ada. Atau dengan kata lain, pembaharuan
mengandaikan adanya dinamika internal dalam diri Pancasila. Mengunakan pendekatan teori
Aristoteles, bahwa di dalam diri Pancasila sebagai pengada (realitas) mengandung potensi, yaitu
dasar kemungkinan (dynamik). Potensi dalam pengertian ini adalah kemampuan real subjek
(dalam hal ini Pancasila) untuk dapat berubah. Subjek sendiri yang berubah dari dalam. Mirip
dengan teori A.N.Whitehead, setiap satuan aktual (sebagai aktus, termasuk Pancasila)
terkandung daya kemungkinan untuk berubah. Bukan kemungkinan murni logis atau
kemungkinan objektif, seperti batu yang dapat dipindahkan atau pohon yang dapat dipotong.
Bagi Whitehead, setiap satuan aktual sebagai realitas merupakan sumber daya untuk proses ke-
menjadi-an yang selanjutnya. Jika dikaitkan dengan aktualisasi nilai Pancasila, maka pada
dasarnya setiap ketentuan hukum dan perundang-undangan pada segala tingkatan, sebagai
aktualisasi nilai Pancasila (transformasi kategori tematis menjadi kategori imperatif), harus
terbuka terhadap peninjauan dan penilaian atau pengkajian tentang keterkaitan dengan nilai
dasar Pancasila.
Untuk melihat transformasi Pancasila menjadi norma hidup sehari-hari dalam bernegara
orang harus menganalisis pasal-pasal penuangan sila ke-4 yang berkaitan dengan negara, yang
meliputi; wilayah, warganegara, dan pemerintahan yang berdaulat. Selanjutnya, untuk
memahami transformasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa, orang harus menganalisis pasal-
pasal penuangan sila ke-3 yang berkaitan dengan bangsa Indonesia, yang meliputi; faktor-faktor
integratif dan upaya untuk menciptakan persatuan Indonesia. Sedangkan untuk memahami
transformasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, orang harus menganalisis pasal-pasal
penuangan sila ke-1, ke-2, dan ke-5 yang berkaitan dengan hidup keagamaan, kemanusiaan dan
sosial ekonomis (Suwarno, 1993: 126).

2.2. Perubahan dan Kebaharuan
Pembaharuan dan perubahan bukanlah melulu bersumber dari satu sisi saja, yaitu akibat yang
timbul dari dalam, melainkan bisa terjadi karena pengaruh dari luar. Terjadinya proses
perubahan (dinamika) dalam aktualisasi nilai Pancasila tidaklah semata-mata disebabkan
kemampuan dari dalam (potensi) dari Pancasila itu sendiri, melainkan suatu peristiwa yang
terkait atau berrelasi dengan realitas yang lain. Dinamika aktualisasi Pancasila bersumber pada
aktivitas di dalam menyerap atau menerima dan menyingkirkan atau menolak nilai-nilai atau
unsur-unsur dari luar (asing). Contoh paling jelas dari terjadinya perubahan transformatif dalam
aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, adalah
empat kali amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan MPR pada tahun 1999, 2000, 2001, dan
tahun 2002.
Dewasa ini, akibat kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, terjadilah
perubahan pola hidup masyarakat yang begitu cepat. Tidak satupun bangsa dan negara mampu
mengisolir diri dan menutup rapat dari pengaruh budaya asing. Demikian juga terhadap masalah
ideologi.Dalam kaitan imi, M.Habib Mustopo (1992: 11 -12) menyatakan, bahwa pergeseran
dan perubahan nilai-nilai akan menimbulkan kebimbangan, terutama didukung oleh kenyataan
masuknya arus budaya asing dengan berbagai aspeknya. Kemajuan di bidang ilmu dan teknologi
komunikasi & transportasi ikut mendorong hubungan antar bangsa semakin erat dan luas.
Kondisi ini di satu pihak akan menyadarkan bahwa kehidupan yang mengikat kepentingan

nasional tidak luput dari pengaruhnya dan dapat menyinggung kepentingan bangsa lain. Ada
semacam kearifan yang harus dipahami, bahwa dalam kehidupan dewasa ini, teknologi sebagai
bagian budaya manusia telah jauh mempengaruhi tata kehidupan manusia secara menyeluruh.
Dalam keadaan semacam ini, tidak mustahil tumbuh suatu pandangan kosmopolitan yang tidak
selalu sejalan dengan tumbuhnya faham kebangsaan.Beberapa informasi dalam berbagai ragam
bentuk dan isinya tidak dapat selalu diawasi atau dicegah begitu saja.Mengingkari dan tidak
mau tahu “tawaran” atau pengaruh nilai-nilai asing merupakan kesesatan berpikir, yang seolah-
olah menganggap bahwa ada eksistens yang bisa berdiri sendiri. Kesalahan berpiklir demikian
oleh Whitehead disebut sebagai the fallacy of misplace concretness (Damardjati Supadjar, 1990:
68). Jika pengaruh itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, atau tidak
mendukung bagi terciptanya kondisi yang sesuai dengan Pancasila, maka perlu dikembangkan
sikap yang kritis terutama terhadap gagasan-gagasan, ide-ide yang datang dari luar.
Dalam konteks budaya, masalah pertemuan kebudayaan bukan masalah memfilter atau
menyaring budaya asing, tetapi mengolah dan mengkreasi dalam interaksi dinamik sehingga
tercipta sesuatu yang baru. Jati diri bangsa, budaya politik adalah sesuatu yang harus terus
menerus dikonstruksikan, karena bukan kenyataan yang mandeg (Sastrapratedja, 1996: 11).
Kalau ideologi-ideologi besar di dunia sekarang ini diperhatikan dengan seksama, maka terlihat
mereka bergeser secara dinamik. Para penyangga ideologi itu telah melakukan revisi,
pembaharuan, dan pemantapan-pemantapan dalam mengaktualisasikan ideologinya.
Perkembangan zaman menuntut bahwa ideologi harus memiliki nafas baru, semangat baru
dengan corak nilai, ajaran dan konsep kunci mengenai kehidupan yang memiliki perspektif baru.
Ideologi Pancasilapun dituntut demikian. Pancasila harus mampu menghadapi pengaruh budaya
asing, khususnya ilmu dan teknologi modern dan latar belakang filsafatnya yang berasal dari
luar.
Prof. Notonagoro telah menemukan cara untuk memanfaatkan pengaruh dari luar tersebut,
yaitu secara eklektif mengambil ilmu pengetahuan dan ajaran kefilsafatan dari luar tersebut,
tetapi dengan melepaskan diri dari sistem filsafat yang bersangkutan dan selanjutnya
diinkorporasikan dalam struktur filsafat Pancasila. Dengan demikian, terhadap pengaruh baru
dari luar, maka Pancasila bersifat terbuka dengan syarat dilepaskan dari sistem filsafatnya,
kemudian dijadikan unsur yang serangkai dan memperkaya struktur filsafat Pancasila (Sri
Soeprapto, 1995: 34). Sepaham dengan Notonagoro, Dibyasuharda (1990: 229)
mengkualifikasikan Pancasila sebagai struktur atau sistem yang terbuka dinamik, yang dapat
menggarap apa yang datang dari luar, dalam arti luas, menjadi miliknya tanpa mengubah
identitasnya, malah mempunyai daya ke luar, mempengaruhi dan mengkreasi.
Dinamika Pancasila dimungkinkan apabila ada daya refleksi yang mendalam dan keterbukaan
yang matang untuk menyerap, menghargai, dan memilih nilai-nilai hidup yang tepat dan baik
untuk menjadi pandangan hidup bangsa bagi kelestarian hidupnya di masa mendatang.
Sedangkan penerapan atau penolakan terhadap nilai-nilai budaya luar tersebut berdasar pada
relevansinya. Dalam konteks hubungan internasional dan pengembangan ideologi, bukan hanya
Pancasila yang menyerap atau dipengaruhi oleh nilai-nilai asing, namun nilai-nilai Pancasila
bisa ditawarkan dan berpengaruh, serta menyokong kepada kebudayaan atau ideologi lain.
Bahkan Soerjanto Poespowardojo (1989: 14) menjelaskan, bahwa dinamika yang ada pada
aktualisasi Pancasila memungkinkan bahwa Pancasila juga tampil sebagai alternatif untuk
melandasi tata kehidupan internasional, baik untuk memberikan orientasi kepada negara-negara
berkembang pada khususnya, maupun mewarnai pola komunikasi antar negara pada umumnya.
Ideologi Pancasila bukanlah pseudo religi. Oleh karena itu, Pancasila perlu dijabarkan secara

rasional dan kritis agar membuka iklim hidup yang bebas dan rasional pula. Konsekuensinya,
bahwa Pancasila harus bersifat terbuka. Artinya, peka terhadap perubahan yang terjadi dalam
kehidupan manusia dan tidak menutup diri terhadap nilai dan pemikiran dari luar yang memang
diakui menunjukkan arti dan makna yang positif bagi pembinaan budaya bangsa, sehingga
dengan demikian menganggap proses akulturasi sebagai gejala wajar. Dengan begitu ideologi
Pancasila akan menunjukkan sifatnya yang dinamik, yaitu memiliki kesediaan untuk
mengadakan pembaharuan yang berguna bagi perkembangan pribadi manusia dan masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan masa depan perlu didorong pengembangan nilai-nilai Pancasila
secara kreatif dan dinamik. Kreativitas dalam konteks ini dapat diartikan sebagai kemampuan
untuk menyeleksi nilai-nilai baru dan mencari alternatif bagi pemecahan masalah-masalah
politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Ideologi Pancasila tidak a priori
menolak bahan-bahan baru dan kebudayaan asing, melainkan mampu menyerap nilai-nilai yang
dipertimbangkan dapat memperkaya dan memperkembangkan kebudayaan sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Menurut Hardono Hadi (1994: 57),
bangsa Indonesia, sebagai pengemban ideeologi Pancasila, tidak defensif dan tertutup sehingga
sesuatu yang berbau asing harus ditangkal dan dihindari karena dianggap bersifat negatif.
Sebaliknya tidak diharapkan bahwa bangsa Indonesia menjadi begitu amorf, sehingga segala
sesuatu yang menimpa dirinya diterima secara buta tanpa pedoman untuk menentukan mana
yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk diintegrasikan dalam pengembangan dirinya.
Bangsa Indonesia mau tidak mau harus terlibat dalam dialog dengan bangsa-bangsa lain,
namun tidak tenggelam dan hilang di dalamnya. Proses akulturasi tidak dapat dihindari. Bangsa
Indonesia juga dituntut berperan aktif dalam pergaulan dunia.Bangsa Indonesia harus mampu
ikut bermain dalam interaksi mondial dalam menentukan arah kehidupan manusia seluruhnya.
Untuk bisa menjalankan peran itu, bangsa Indonesia sendiri harus mempunyai kesatuan nilai
yang menjadi keunikan bangsa, sehingga mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti
dalam percaturan internasional. Identitas diri bukan sesuatu yang tertutup tetapi sesuatu yang
terus dibentuk dalam interaksi dengan kelompok masyarakat bangsa, negara, manusia, sistem
masyarakat dunia (Sastrapratedja, 1996: 3).
Semuanya itu mengharuskan adanya strategi kebudayaan yang mampu neneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam segala aspek kehidupan bangsa.
Abdulkadir Besar (1994: 35) menawarkan pelaksanaan “strategi dialogi antar budaya” dalam
menghadapi gejala penyeragaman atau globalisasi dewasa ini.. Artinya, membiarkan budaya
asing yang mengglobal berdampingan dengan budaya asli. Melalui interaksi yang terus
menerus, masing-masing budaya akan mendapatkan pelajaran yang berharga. Hasil akhir yang
diharapkan dari interaksi itu adalah terpeliharanya cukup diferensiasi, sekaligus tercegahnya
penyeragaman universal. Ideologi Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak mandeg,
melainkan harus diperbaharui secara terus menerus, sehingga mampu memberikan pedoman,
inspirasi, dan dukungan pada setiap anggota bangsa Indonesia dalam memperkembangkan
dirinya sebagai bangsa Indonesia. Sedangkan pembaharuan yang sehat selalu bertitik tolak pada
masa lampau dan sekaligus diarahkan bagi terwujudnya cita-cita di masa depan. Setiap zaman
menampakkan corak kepribadiannya sendiri, namun kepribadian yang terbentuk pada zaman
yang berbeda haruslah mempunyai kesinambungan dari masa lampau sampai masa mendatang
sehingga tergambarkan aspek historitasnya (Hardono Hadi, 1994: 76). Kesinambungan tidak
berarti hanya penggulangan atau pelestarian secara persis apa yang dihasilkan di masa lampau
untuk diterapkan pada masa kini dan masa mendatang. Unsur yang sama dan permanen maupun
unsur yang kreatif dan baru, semuanya harus dirajut dalam satu kesatuan yang integral.

Teori hilemorfisme dari Aristoteles bisa mendukung pandangan tersebut. Aristoteles
menegaskan, bahwa meskipun materi (hyle) menjadi nyata bila dibentuk (morfe), namun materi
tidaklah pasif. Artinya ada gerak. Setiap relitas yang sudah berbentuk (berdasar materi) dapat
juga menjadi materi bagi bentuk yang lain,sehingga setiap realitas mengalami perubahan.
Perubahan yang ada bukan kebaharuan sama sekali namun perubahan yang kesinambungan.
Artinya, aktualitas yang ada sekarang berdasar pada realitas yang telah
ada pada masa lampau dan terbuka bagi adanya perubahan di masa depan.

3. Simpulan
Dinamika dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan benegara adalah suatu keniscayaan, agar Pancasila tetap selalu relevan dalam
fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar loyalitas warga masyarakat dan warganegara
terhadap Pancasila tetap tinggi. Di lain pihak, apatisme dan resistensi terhadap Pancasila bisa
diminimalisir.
Substansi dari adanya dinamika dalam aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan praksis
adalah selalu terjadinya perubahan dan pembaharuan dalam mentransformasikan nilai Pancasila
ke dalam norma dan praktik hidup dengan menjaga konsistensi, relevansi, dan
kontekstualisasinya. Sedangkan perubahan dan pembaharuan yang berkesinambungan
terjadi apabila ada dinamika internal (self-renewal) dan penyerapan terhadap nilai-nilai asing
yang relevan untuk pengembangan dan penggayaan ideologi Pancasila.Muara dari semua upaya
perubahan dan pembaharuan dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila adalah terjaganya
akseptabilitas dan kredibilitas Pancasila oleh warganegara dan wargamasyarakat Indonesia  


By: Hasyim D...